HOME > Wawasan > Global > Hari Aksi Mangrove Sedunia: Sejarah, Makna, dan Perjuangan Global Melindungi Mangrove

Hari Aksi Mangrove Sedunia: Sejarah, Makna, dan Perjuangan Global Melindungi Mangrove

Hari Aksi Mangrove Sedunia dan perjuangan global melindungi ekosistem mangrove
0:00/0:00

MANGROVEMAGZ. Hari Aksi Mangrove Sedunia menjadi salah satu momentum penting dalam gerakan perlindungan ekosistem pesisir dunia. Setiap tanggal 26 Juli, berbagai komunitas, organisasi lingkungan, nelayan, masyarakat adat, aktivis, akademisi, hingga pemerhati lingkungan memperingati hari ini sebagai pengingat bahwa mangrove bukan sekadar kumpulan pohon di wilayah pasang surut, melainkan ruang hidup, sumber penghidupan, benteng alami pesisir, dan warisan ekologis yang harus dijaga.

Sejarah Hari Aksi Mangrove Sedunia

Peringatan ini berakar dari sejarah panjang perjuangan masyarakat pesisir, terutama di Amerika Latin. Pada tahun 2000, tanggal 26 Juli pertama kali dipilih sebagai hari untuk mangrove karena memiliki makna besar bagi gerakan mangrove di Amerika Latin yang dipimpin oleh Red Manglar atau Mangrove Network. Tanggal tersebut merujuk pada peristiwa 26 Juli 1998, ketika seorang aktivis Greenpeace asal Micronesia, Hayhow Daniel Nanoto, meninggal dunia akibat serangan jantung saat terlibat dalam aksi protes besar yang dipimpin oleh FUNDECOL dan Greenpeace International.

Aksi tersebut berlangsung bersama masyarakat lokal Muisne, yang bergabung dengan organisasi lingkungan untuk membongkar tambak udang ilegal. Upaya itu dilakukan sebagai bagian dari usaha memulihkan kawasan yang rusak agar dapat kembali menjadi hutan mangrove seperti semula. Sejak wafatnya Hayhow Daniel Nanoto, FUNDECOL dan berbagai pihak lainnya memperingati tanggal 26 Juli sebagai hari untuk mengenang perjuangan tersebut sekaligus memperbarui komitmen global dalam menyelamatkan mangrove.

Gerakan Global Melalui Mangrove Action Day

Pada tahun 2003, Mangrove Action Project atau MAP bersama Red Manglar memperluas gerakan ini dengan mendorong nelayan dari berbagai negara untuk bergabung dalam Mangrove Action Day. Mereka menyerukan pembentukan flotilla atau armada aksi bersama sebagai bentuk protes terhadap ekspansi destruktif tambak udang di wilayah pesisir masing-masing.

Seruan tersebut mendapat respons positif dari banyak negara, mulai dari Bangladesh, India, Malaysia, Ekuador, Brasil, Kolombia, Meksiko, Honduras, Nigeria, Senegal, Kenya, Eropa, hingga Amerika Serikat. Sejak saat itu, setiap tanggal 26 Juli menjadi hari peringatan tahunan global untuk mangrove.

Mangrove sebagai Warisan Alam dan Sumber Kehidupan

Tema yang diangkat dalam peringatan tersebut adalah “Mangroves, Our Natural Heritage” atau “Mangrove, Warisan Alam Kita”. Red Manglar yang berbasis di Ekuador menegaskan bahwa mangrove adalah warisan, sumber kehidupan, mata pencaharian, tempat kerja, gudang pangan, sekaligus rumah bagi masyarakat pesisir.

Pernyataan ini menggambarkan betapa dekatnya hubungan masyarakat pesisir dengan mangrove. Bagi banyak komunitas tradisional, mangrove bukan hanya ekosistem yang dilihat dari kejauhan. Mangrove adalah ruang hidup yang menyediakan ikan, udang, kepiting, kayu, perlindungan alami, serta identitas budaya yang melekat pada kehidupan sehari-hari.

Ancaman terhadap Ekosistem Mangrove Dunia

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa mangrove terus menghadapi tekanan serius. Dari Meksiko hingga Peru, berbagai laporan harian menunjukkan adanya polusi, deforestasi, dan kerusakan ekosistem mangrove yang didorong oleh proyek-proyek besar seperti pembangkit listrik tenaga air, pariwisata, dan akuakultur udang. Kontaminasi muara, pengerukan kanal, pembangunan sipil yang merugikan ekosistem, serta penebangan hutan secara tidak terkendali menjadi ancaman yang terus berlangsung.

Red Manglar memperingatkan bahwa di negara-negara yang kehilangan penghalang alami akibat penebangan mangrove secara sembarangan, bencana seperti banjir, badai tropis, dan siklon belum mampu menghentikan semangat destruktif industri pariwisata. Bahkan, mereka menyoroti bagaimana sebagian pihak gagal mengambil pelajaran dari tsunami besar di Asia yang menghancurkan fasilitas wisata dan permukiman masyarakat.

Fungsi Mangrove sebagai Benteng Alami Pesisir

Peringatan tersebut menjadi penting karena mangrove memiliki fungsi perlindungan alami yang sangat vital. Mangrove mampu meredam energi gelombang, mengurangi dampak abrasi, menjaga kestabilan garis pantai, serta menjadi pelindung bagi masyarakat pesisir dari ancaman badai, gelombang pasang, tsunami, dan kenaikan muka air laut.

Peringatan Hari Aksi Mangrove Sedunia di Bangladesh

Di Bangladesh, peringatan Hari Aksi Mangrove Sedunia juga diisi dengan diskusi yang diselenggarakan oleh Institute for Environment and Development Studies. Para pembicara memperingatkan bahwa kerusakan hutan mangrove akan memperburuk penderitaan masyarakat termiskin dunia yang tinggal di wilayah pesisir. Hilangnya mangrove berarti berkurangnya kemampuan masyarakat dalam menghadapi siklon, gelombang pasang, dan tsunami.

Dalam diskusi tersebut, para pembicara menegaskan bahwa kerusakan hutan mangrove membuka ekosistem terhadap ancaman yang lebih besar. Pengalaman tsunami Asia menunjukkan bahwa hutan mangrove telah membantu melindungi Bangladesh dan pesisir tenggara India dari dampak tsunami yang merusak. Hutan mangrove seperti Sundarbans mendukung kehidupan di bumi dan semakin membutuhkan perlindungan, terutama di tengah meningkatnya ancaman tsunami, siklon, dan kenaikan muka air laut.

Masih di Bangladesh, Centre for Coastal Environmental Conservation atau CCEC menjalankan program perlindungan ekosistem pesisir barat daya Bangladesh, khususnya di polder 30 Batiaghata Upazilla. Program tersebut dilakukan dengan membentuk Mangrove Protection Society atau MPS yang beranggotakan 51 orang. Mereka juga merencanakan perluasan kegiatan di polder 32 Dacope, yang berada di dekat Sundarbans, kawasan yang telah ditetapkan UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia.

Edukasi Mangrove di India

Di India, COPDANET memperingati Hari Aksi Mangrove Sedunia melalui lomba seni, menggambar, dan melukis untuk anak-anak sekolah. Kegiatan ini dilaksanakan secara besar-besaran dengan reli, pertemuan publik, serta pembagian hadiah oleh pejabat senior kehutanan. Cara ini menunjukkan bahwa pendidikan mangrove dapat ditanamkan sejak dini melalui ruang kreatif yang mudah dipahami oleh anak-anak.

Dukungan Pengelolaan Mangrove Berkelanjutan di Afrika

Sementara itu, di Afrika, organisasi lokal Congo Nature Conservation memperingati hari internasional ini dengan menerima pesan dan panggilan dukungan untuk program pengelolaan mangrove berkelanjutan di Kongo. Mangrove di wilayah tersebut terancam oleh perencanaan kota, polusi laut akibat minyak, teknik penangkapan ikan yang buruk, dan berbagai tekanan lainnya.

Mangrove, Keadilan Sosial, dan Masyarakat Pesisir

Rangkaian peringatan dari berbagai negara menunjukkan bahwa isu mangrove bukan persoalan lokal semata. Ancaman terhadap mangrove terjadi di banyak wilayah pesisir dunia, dengan pola yang sering kali serupa: ekspansi industri, pembangunan yang tidak sensitif terhadap ekosistem, polusi, konversi lahan, dan lemahnya perlindungan terhadap masyarakat pesisir yang bergantung pada mangrove.

Mangrove Action Project menyatakan bahwa momentum global sedang terbentuk untuk mengambil tanggung jawab bersama dalam membela, melestarikan, dan memulihkan ekosistem yang sangat terancam ini. Mangrove disebut sebagai warisan bangsa-bangsa dan wilayah masyarakat adat tradisional.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa perlindungan mangrove tidak dapat dilepaskan dari keadilan sosial. Menjaga mangrove berarti menjaga ruang hidup masyarakat pesisir, menghormati pengetahuan lokal, melindungi sumber penghidupan nelayan, serta memastikan pembangunan tidak mengorbankan ekosistem yang menjadi fondasi kehidupan banyak komunitas.

Relevansi Hari Aksi Mangrove Sedunia bagi Indonesia

Hari Aksi Mangrove Sedunia pada akhirnya bukan hanya seremoni tahunan. Ia adalah panggilan moral dan ekologis untuk melihat kembali hubungan manusia dengan pesisir. Di tengah tekanan perubahan iklim, kenaikan muka air laut, krisis biodiversitas, dan meningkatnya bencana pesisir, mangrove menjadi salah satu ekosistem kunci yang harus ditempatkan sebagai prioritas perlindungan.

Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan ekosistem mangrove yang sangat luas dan beragam, pesan Hari Aksi Mangrove Sedunia memiliki relevansi yang kuat. Mangrove bukan hanya penting bagi konservasi, tetapi juga bagi ketahanan pesisir, mitigasi perubahan iklim, ekonomi masyarakat, pendidikan lingkungan, dan masa depan generasi pesisir.

Di Indonesia, gerakan edukasi, kampanye, penelitian, dan pengabdian mangrove juga terus dilakukan oleh berbagai komunitas dan organisasi, salah satunya KeSEMaT, yang sejak lama dikenal sebagai komunitas mangrove berbasis kampus yang aktif mendorong kepedulian terhadap ekosistem pesisir.

Maka, setiap 26 Juli seharusnya menjadi pengingat bahwa menyelamatkan mangrove bukan pekerjaan satu hari, melainkan gerakan panjang yang membutuhkan keberpihakan, pengetahuan, kolaborasi, dan keberanian. Dari Muisne hingga Sundarbans, dari India hingga Kongo, dari Amerika Latin hingga Indonesia, pesan yang sama terus bergema: mangrove adalah warisan alam, sumber kehidupan, dan benteng terakhir masyarakat pesisir yang tidak boleh hilang.

Sumber dan Rujukan

Artikel ini disusun dan dikembangkan oleh MANGROVEMAGZ berdasarkan informasi dari Alfredo Quarto, Mangrove Action Project (MAP), yang dimuat dalam World Rainforest Movement (WRM) Bulletin 109, 1 August 2006, berjudul “Commemorating the Mangrove Action Day on July 26th”. Informasi MAP: mangroveap@olympus.net | http://www.earthisland.org/map/map.html

(Sumber foto: Mangrove Creative).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *