Saturday, November 26, 2022
HOME > FENOMENA > Fenomena Blooming Sumpil di Tengah Upaya Rehabilitasi Mangrove

Fenomena Blooming Sumpil di Tengah Upaya Rehabilitasi Mangrove

MANGROVEMAGZ. Senang sekali, saya berkesempatan mangroving ke Taman Edukasi Mangrove (TEM) Demang Gedi di Desa Gedangan, Purworejo. Pada mangroving kali ini, saya menemukan fenomena blooming Sumpil (Faunus ater), salah satu jenis Gastropoda yang populasinya sangat melimpah, sehingga warga setempat menyebutnya sebagai hama. Fenomena ini membuat tidak seimbangnya ekosistem di TEM.

Warga setempat gelisah. Setiap kali melakukan penanaman, bibit yang ditanam pasti mati karena akarnya rusak “diserbu” Sumpil. Mereka berspekulasi bahwa populasi Sumpil yang membludak, membuat upaya rehabilitasi mangrove yang dilakukan menjadi gagal.

Salah satu spot di TEM.

Pada saat melakukan pengambilan data kualitas air pada pagi hari, saya menemukan dalam 1 meter persegi, terdapat lebih dari 1000 ekor pada transek 1 x 1 meter.

Hasil data yang saya dapat, kemudian saya bandingkan dengan lokasi lainnya untuk melihat perbedaannya. Hal ini berguna untuk membuat masukan terkait penanganannya kedepan.

Saya mengamati, ternyata Sumpil menyukai tempat yang lembab, teduh dan basah sehingga banyak ditemukan bergerombol di sekitar aliran sungai. Gastropoda ini juga tidak hidup di perairan yang dalam. Saat pasang, saya menemukan Sumpil naik ke akar mangrove untuk menghindari air pasang.

Proses riset Sumpil di TEM.

Saya menduga bahwa Sumpil juga memangsa akar dan bibit mangrove, mengingat dari literatur yang saya baca, Sumpil merupakan herbivora. Jenis mangrove yang diserang pun tidak semua, hanya Rhizophora saja. Saya tidak menemukan Sumpil pada Sonneratia, Avicennia dan Nypa.

Saya juga menemukan bahwa di lokasi penelitian memiliki kandungan logam berat yang tinggi, sehingga akan berdampak pada Sumpil apabila diolah dan dikonsumsi.

Pengambilan data kualitas air.

Dari beberapa hal yang saya temukan ini, saya menyarankan upaya rehabilitasi mangrove agar dapat dilakukan dengan menggunakan jenis mangrove selain Rhizophora, seperti Avicennia, Sonneratia dan jenis lainnya, karena akan memiliki peluang kelulushidupan yang lebih tinggi.

Selanjutnya, pembuangan limbah rumah tangga dan tambak juga bisa dialihkan untuk mengurangi pengendapan logam berat di perairan dan sedimen. Kedepan, perlu juga dilakukan lebih banyak penelitian untuk mendapatkan solusi yang lebih konkret lagi, dalam upaya optimalisasi program rehabilitasi mangrove.

(Sumber foto: 1: Alvin Francis Lok Siew Loon; 2, 3, 4: dokumentasi pribadi).

Open chat
1
Salam MANGROVER! Halo, ada yang bisa kami bantu?