HOME > SOSOK > Srikandi Pantura, Evolusi Ibu Rumah Tangga Jadi Pengrajin Batik Mangrove Sukses

Srikandi Pantura, Evolusi Ibu Rumah Tangga Jadi Pengrajin Batik Mangrove Sukses

MANGROVEMAGZ. Menurut Anda, apakah ibu rumah tangga tidak bisa menghasilkan penghasilan sendiri? Tentu bisa. Srikandi Pantura (SP) adalah contohnya. Kelompok ibu rumah tangga di Mangunharjo, Semarang ini, terbentuknya berawal dari sebuah ajakan dari KeSEMaT (salah satu organisasi mahasiswa di lingkup Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang) untuk memanfaatkan potensi mangrove di desa mereka.

Berbekal kreatifitas tinggi, SP sukses menjadi kelompok pengrajin batik mangrove sehingga bisa mendapatkan tambahan pendapatan untuk membantu perekonomian keluarga.

Tanggal 16 Januari 2020 yang lalu, saya sempat berkunjung ke Semarang Mangrove Center (SMC) Jawa Tengah (Jateng), tempat dimana mereka biasa mengolah dan memproduksi batik mangrovenya.

“SP terbentuk pada tahun 2012, dengan anggota awal 20 ibu rumah tangga, yang merupakan istri dari kelompok tani mangrove,” ujar Mufidah, selaku koordinator SP. “Jadi, kami tak hanya membuat batik saja, Mbak. Tapi dengan kelompok Bina Citra Karya Wanita (BCKW), kami juga mengolah jajanan mangrove,” lanjutnya.

Di SMC, memang terlihat aktivitas kreatif membuat jajanan dan batik mangrove. Kelompok ini memajang syal, kain dan pernak-pernik batik di almari kaca khusus, di ruang tamu Mufidah.

“Di lemari kaca lainnya, juga tersedia jajanan mangrove, seperti kerupuk, stik, peyek, dan lain-lain, yang kami jual untuk oleh-oleh,” terangnya.

Jajanan dibuat dari buah mangrove yang sudah matang. BCKW mengolahnya menjadi tepung sebagai bahan dasar pembuatannya.

Mufidah menceritakan bahwa dulu KeSEMaT mengajak ibu-ibu untuk membuat jajanan dan batik mangrove dengan mendatangkan pelatih dari Semarang dan luar Semarang.

Batik mangrove dijual dengan harga Rp200.000,- hingga Rp300.000,-/potong. Batiknya unik, karena berasal dari pewarna asli mangrove yang dibuat dari limbah propagul mangrove yang sudah mati. Jajanan dijual Rp15.000,-/buah. Rasanya enak dan gurih. Dari usaha ini, mereka bisa meraup untung hingga jutaan rupiah per bulan.

Produk mereka sudah terjual hingga ke luar negeri. Pemasaran dilakukan offline dan online, juga dengan cara mengikuti banyak pameran.

“Saya bersyukur, dengan usaha ini. Lumayan bisa menjadi tambahan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” ungkap Mufidah. “Selain itu, kami juga membuka kelas pelatihan untuk masyarakat yang ingin membatik dan membuat jajanan mangrove, agar kita dapat berkembang sama-sama,” kisahnya lebih lanjut.

SP adalah sosok inspiratif kelompok ibu rumah tangga, para istri kelompok tani mangrove yang mau berkembang sehingga sukses memiliki pendapatannya sendiri dengan mengoptimalkan apa yang alam telah sediakan.

(Sumber foto: dokumentasi pribadi).

Open chat
1
Salam MANGROVER! Halo, ada yang bisa kami bantu?