HOME > SAVE MANGROVE > Lima Pekerjaan yang Harus Anda Lakukan Setelah Menanam Mangrove

Lima Pekerjaan yang Harus Anda Lakukan Setelah Menanam Mangrove

MANGROVEMAGZ. Tak mau bibit-bibit mangrove yang telah kita tanam mati sia-sia, bukan? Nah, agar hal tersebut tidak terjadi, maka setelah menanam mangrove, ada beberapa hal yang harus kita kerjakan untuk mencegah kematiannya. Apa saja itu? Berikut ini, kami sudah merangkum “Lima Pekerjaan yang Harus Anda Lakukan Setelah Menanam Mangrove,” dari berbagai sumber. Selamat membaca.

Pekerjaan pemeliharaan dan monitoring adalah kegiatan penjagaan bibit-bibit mangrove yang telah ditanam. Pekerjaan ini sangat penting, karena akan dapat menjaga kelulushidupan bibit mangrove sehingga memiliki pertumbuhan yang optimal.

Suksesnya kegiatan ini, akan menjamin keberlangsungan program konservasi penanaman mangrove kita di masa depan. Kegiatan ini terdiri dari lima pekerjaan, yaitu: (1) penyiangan dan penyulaman, (2) penjarangan, (3) perlindungan tanaman, (4) pengukuran pertumbuhan dan (5) pekerjaan lainnya.

1. Penyiangan dan Penyulaman
Penyiangan dilakukan apabila kelulushidupan bibit-bibit mangrove yang telah ditanam, terus menerus mengalami penurunan. Penyiangan dilakukan dengan penyulaman, yaitu mengganti bibit-bibit mangrove yang telah mati dengan bibit-bibit mangrove yang baru.

Selain itu, juga dilakukan penebasan terhadap tumbuhan liar yang tumbuh di sekitar mangrove untuk mengurangi persaingan, sehingga bibit-bibit mangrove yang telah ditanam bisa tumbuh dengan baik

Tiga bulan setelah penanaman, dilaksanakan pemeriksaan lapangan untuk mengetahui tingkat pertumbuhan tanaman. Apabila ada tanaman yang mati, harus segera dilaksanakan penyulaman dengan tanaman baru.

Pada lokasi penanaman yang agak tinggi atau frekuensi genangan air pasang kurang, perlu mendapat perhatian lebih intensif dalam pemeliharaannya. Hal ini disebabkan pada lokasi tersebut, akan cepat ditumbuhi kembali oleh jenis pakis-pakisan.

Jadi, apabila kelihatan tumbuhan pakis mengganggu pertumbuhan anakan mangrove, perlu segera diadakan penebasan kembali. Kegiatan penyiangan dan penyulaman ini dilakukan sampai tanaman berumur 5 tahun.

2. Penjarangan
Kegiatan penjarangan diperlukan untuk memberi ruang tumbuh yang ideal bagi tanaman, yaitu agar pertumbuhan tanaman dapat meningkat, dan pohon-pohon yang tumbuh bisa sehat dan baik. Hasil penjarangan ini dapat dimanfaatkan untuk bahan baku arang, industri chip/kertas, kayu bakar bahkan untuk makanan kambing.

3. Perlindungan Tanaman
Mangrove dalam pertumbuhannya mempunyai masa-masa kritis. Oleh karena itu, perlindungan tanaman mangrove dari hama yang merusak, mulai dari pembibitan hingga mencapai anakan, perlu dilakukan agar pertumbuhannya dapat berlangsung dengan baik.

Sampai dengan usia pembibitan satu tahun, batang mangrove sangat disukai oleh serangga atau ketam/kepiting. Menurut pengalaman, 60-70% mangrove akan mati sebelum berusia 1 tahun karena digerogoti serangga atau ketam/kepiting.

Di berbagai tempat, seperti di Trimulyo Semarang, dan beberapa lokasi di Demak, terkadang ditemukan juga kambing yang memangsa bibit-bibit yang baru saja ditanam.

Untuk mengatasi hama, bisa dilakukan dengan beberapa cara. Buah Rhizophora spp, Bruguiera spp atau Ceriops spp yang akan digunakan sebagai bibit, dipilih yang telah cukup matang. Tanda-tanda kematangan buah ditunjukkan oleh keluarnya buah dari tangkai.

Buah kemudian disimpan di tempat yang teduh, ditutup dengan karung goni setengah basah selama 5-7 hari. Penyimpanan selama itu dimaksudkan untuk menghilangkan bau/aroma buah segar yang dimiliki buah yang sangat disenangi oleh serangga, gastropoda dan kepiting. Setelah itu, mangrove siap untuk disemai pada polibek.

Serangga tidak suka menempel pada daun yang terdapat garam. Karena itu, biasanya dilakukan penyemprotan air laut secara periodik (sekali seminggu selama 8 minggu) dengan alat semprotan pertanian untuk mencegah parasit berkembang biak.

Masing-masing pohon hanya memerlukan 2-3 menit penyemprotan. Sehubungan dengan suplai air laut untuk penyemprotan, akan lebih efisien, bila dilakukan saat pasang.

Hama lain yang juga sering menyerang tanaman mangrove pada usia muda adalah kutu loncat. Serangan hama ini dicirikan oleh warna daun tanaman menjadi kuning, kemudian rontok dan tanaman mati. Bila serangan hama ini terjadi, sebaiknya tanaman yang terserang dimusnahkan saja, agar menghambat penyebarannya pada tanaman lain.

Sementara itu, untuk serangan kambing, dilakukan dengan cara negosiasi dan sosialisasi program rehabilitasi mangrove kita dengan penggembala setempat, dan himbauan agar tidak menggembalakan kambing di sekitar lokasi tapak.

Selama masa pasca penanaman, sering terjadi kerusakan yang diakibatkan oleh tanah lunak, angin kencang, ombak tinggi, arus air yang keras, minyak, sampah dan lumut laut yang mengakibatkan tanaman roboh. Untuk menanggulanginya dilakukan dengan menancapkan kembali ajir yang roboh dan mengikatnya dengan tali ke tanaman agar tegak kembali.

4. Pengukuran Pertumbuhan
Pengukuran pertumbuhan dilakukan dengan mengukur pertambahan tinggi atau panjang plumula, jumlah daun yang mekar, jumlah pasangan daun dan jumlah cabang.

Pengukuran ini diadakan untuk mengetahui dan meneliti seberapa besar kelulushidupan bibit-bibit mangrove yang telah ditanam. Pengukuran dilakukan dalam rentang waktu tiga bulan sekali dengan melibatkan mahasiswa dan masyarakat sekitar di lokasi penanaman.

Pada bulan pertama, belum dilakukan pengukuran pertumbuhan terhadap bibit-bibit mangrove yang hidup. Pengukuran pertumbuhan, baru akan dimulai setelah bibit berumur tiga bulan (untuk mengetahui tingkat pertumbuhan bibit mangrove).

Bagian tanaman mangrove yang tumbuh dan berkembang bernama plumula atau pucuk daun muda. Bagian tanaman mangrove inilah yang menjadi indikator pertumbuhan, walaupun ada daun bibit mangrovenya yang telah layu dan kering.

5. Pekerjaan Lainnya
Kerja sama dengan lembaga penelitian atau instansi lainnya bisa dilakukan apabila terjadi hasil penanaman yang tidak maksimal, untuk memperoleh rekomendasi terhadap tata cara penanggulangan dampak, yang diperoleh dari saran dan pengalaman tentang penanaman bibit mangrove yang diadakan di daerah lain.

Jangan lupa, setelah melaporkan hasil kegiatan dalam bentuk laporan kegiatan, maka tulislah dan publikasikan pengalaman pekerjaan mangrove ini, ke media sosial dan website terkait, untuk menginspirasi penggiat mangrove di Indonesia, bahkan dunia sehingga dapat diambil hikmah dan manfaatnya untuk diimplementasikan di daerah mereka masing-masing.

Bahan Bacaan
Bengen, D. G. dan Adrianto. 2001. Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Pusat Kajian Pesisir dan Lautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

KeSEMaT dan Dinas Kelautan dan Perikanan Pemerintah Kota Semarang. 2007. Laporan Akhir Konservasi dan Pemulihan Kualitas Lingkungan. KeSEMaT dan Dinas Kelautan dan Perikanan Pemerintah Kota Semarang. Semarang.

Kitamura, S. 1997. Handbook of Mangroves in Indonesia. Bali and Lombok. ISME and JICA. Bali.

Nontji, A. 1987. Laut Nusantara (Marine Nusantara). Djambatan. Jakarta, Indonesia.

Rusila Noor, Y., M. Khazali, I. N. N. Suryadiputra. 1999. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. PKA/WI-IP. Bogor.

Saenger, P., E. J. Hegerl & J. D. S. Davie. 1983. Global Status of Mangroves Ecosystems. IUCN Commission on Ecology Papers No. 3.

Samingan, M. T. 1980. Notes on The Vegetation of The Tidal Areas of South Sumatra, Indonesia, with Special Reference to Karang Agung dalam International Social Tripocal Ecology. Kuala Lumpur.

Taniguchi, K., S. Takashima, O. Suko. 1999. Manual Silvikultur Mangrove untuk Bali dan Lombok. Departemen Kehutanan dan Perkebunan Republik Indonesia and Japan International Cooperation Agency. Bali.

Tomlinson, P. B. 1986. The Botany of Mangroves. Cambridge University Press, Cambridge. U. K.

Wightman, G. M. 1989. Mangroves of The Northern Territory. Northern Territory Botanical Bulletin No. 7. Conservation Commission of The Northern Territtory, Palmerston, N. T., Australia.

Wawancara dengan Suyadi, Tokoh Mangrove Rembang, Mantan Ketua Kelompok Tani Mangrove Sidodadi Maju.

Wawancara dengan Aris Priyono, Pendiri KeSEMaT, Semarang.

(Sumber foto: 1).

Siti Nurhidayati
Ordinary woman with extraordinary God.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *