HOME > SAVE MANGROVE > Empat Pekerjaan yang Harus Anda Lakukan Sebelum Menanam Mangrove

Empat Pekerjaan yang Harus Anda Lakukan Sebelum Menanam Mangrove

MANGROVEMAGZ. Sebelum melakukan penanaman bibit mangrove, ada beberapa kegiatan yang harus dilakukan, agar program penanaman kita berhasil dengan baik. Empat pekerjaan yang harus Anda lakukan sebelum menanam mangrove, yaitu: (1) persiapan dan pra survei; (2) pekerjaan survei; (3) penyuluhan konservasi; dan (4) konservasi. Berikut, di bawah ini, dijelaskan mengenai kegiatan dari masing-masing pekerjaan. Selamat membaca.

1. Persiapan dan Pra Survei
Penyiapan Peralatan
Peralatan yang diperlukan dalam pekerjaan konservasi penanaman mangrove, yaitu peta lokasi, peralatan teknis penanaman (ajir, tali rafia, refraktometer, perahu dan ember).

Bahan dari pekerjaan ini adalah bibit mangrove yang terdiri dari berbagai jenis yang telah ditentukan sebelumnya, seperti Rhizophora mucronata, R. apiculata, Bruguiera gymnorrhiza dan lain-lain.

Semuanya harus dipersiapkan sedemikian rupa sehingga bisa memperlancar jalannya pekerjaan konservasi dan pemulihan kualitas lingkungan.

Penyusunan Jadwal
Pekerjaan penyusunan jadwal pekerjaan survei lokasi penanaman ditentukan sesuai dengan tabel pasang surut, karena pelaksanaan survei tergantung pada kondisi pasang surut. Pekerjaan ini biasanya disusun oleh rekanan yang bekerja sama dengan tenaga lapangan yang telah ditunjuk.

Hal-hal penting yang harus diperhatikan pada saat observasi adala: (1) observasi tentang berbagai kondisi tanah dan lahan hanya dapat dilakukan pada saat surut; (2) untuk observasi ketinggian pasang purnama, harus datang ke lokasi penanaman sebelum air pasang datang.

Penyusunan jadwal pekerjaan penting dilakukan, disusun oleh rekanan yang bekerjasama dengan tenaga lapangan yang telah ditunjuk.

Sebelum menyusun jadwal pekerjaan, koordinator lapangan, tenaga kelautan dan perikanan, dan tenaga perawat tanaman, beberapa kali dianjurkan untuk meninjau lokasi pekerjaan konservasi, untuk mencocokkan tabel pasang surut dengan kondisi lapangan yang sebenarnya. Setelah terjadi kecocokan antara keduanya, barulah penyusunan jadwal pekerjaan dilakukan.

2. Pekerjaan Survei
Seleksi dan Penanganan Bibit Mangrove
Pekerjaan seleksi dan penanganan bibit mangrove dilakukan untuk memastikan kondisi bibit dan pembelian bibit. Bibit mangrove diambil dan dibeli dari kebun bibit mangrove yang berkualitas dan telah tersertifikasi.

Bibit yang diambil adalah yang sehat, segar, bebas dari hama dan penyakit. Beberapa jenis bibit yang bisa digunakan adalah Rhizophora mucronata, R. apiculata dan Bruguiera gymnorriza. Alasan pemilihan Rhizophora mucronata dan R. apiculata adalah karakter akarnya yang kuat sehingga mampu meredam gelombang laut sebagai penyebab abrasi. Sedangkan pemilihan jenis B. gymnorrhiza, untuk ditanam di lokasi penanaman yang berada di daerah daratan (hulu).

Pengadaan Media Semai
Seminggu sebelum dibawa ke lokasi penanaman, naungan bibit mangrove sebagai pelindung dari sinar matahari secara langsung mulai dibuka. Hal ini dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada bibit-bibit mangrove untuk dapat beradaptasi dengan baik sehingga pada saat ditanam bisa cepat beradaptasi dengan lingkungannya yang baru.

Survei Kondisi Sosial Ekonomi
Survei kondisi sosial ekonomi di sekitar lokasi penanaman juga dilakukan untuk mengetahui, sekaligus memperoleh informasi tentang kepemilikan lahan atau rencana tata guna lahan dari instansi terkait, kelurahan atau ketua kelompok tani.

Pekerjaan survei ini dilakukan dengan melakukan penegasan apakah lokasi penanaman yang ada, sama dengan lokasi yang direncanakan. Survei dilakukan dengan cara menemui dan berdiskusi dengan Kepala Desa setempat.

Penjelasan mengenai rencana penanaman mangrove, harus dijelaskan dan disosialisasikan kepada Kepala Desa dan masyarakat sekitarnya. Sosialisasi dan undangan mengenai jadwal pekerjaan penanaman mangrove juga dilakukan jauh-jauh hari, di sekolah-sekolah sekitar tapak.

Survei kondisi sosial ekonomi sangat penting dilakukan, untuk mengetahui kepemilikan lahan dan rencana tata guna lahan, calon lokasi program rehabilitasi mangrove kita.

Hal ini dilakukan agar undangan penanaman mangrove yang diberikan tidak mengganggu kegiatan mereka. Dengan demikian, pada saat penanaman, mereka bisa mengikuti keseluruhan jalannya acara dengan baik.

Pengumpulan berbagai informasi penting lainnya, seperti kondisi alur/jalan air dan jalan darat dan kerja sama tenaga kerja, terutama penyewaan perahu dengan kelompok nelayan, juga dilakukan. Hal ini untuk mempermudah jalannya pekerjaan konservasi.

Survei Tanda Batas
Survei tanda batas dilakukan untuk mengetahui lokasi batas-batas penanaman yang jelas sehingga di kemudian hari tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, yang bisa mengakibatkan pada kegagalan pekerjaan konservasi penanaman mangrove. Ketidakjelasan tanda batas bisa ditanyakan kepada kelurahan dan kelompok masyarakat setempat.

Survei tanda batas dilakukan beberapa kali, dengan cara mendatangi langsung kelurahan dan kecamatan serta wawancara dengan warga sekitar tapak. Hasil yang didapatkan pada survei tanda batas ini sangat membantu dalam penentuan lokasi penanaman.

Sebuah contoh, adanya fakta bahwa pengerukan sungai dilakukan di daerah hulu sungai, bisa dijadikan acuan untuk memindahkan lokasi penanaman, sehingga penanaman bisa dialihkan di bantaran sungai, namun agak mengarah ke muara sampai dengan laut.

Selain itu, informasi dari warga sekitar tentang kepemilikan tanah tambak tidak produktif milik pihak ketiga, juga bisa dijadikan acuan agar pekerjaan penanaman tidak dilakukan di sekitar tambak, karena beberapa tahun ke depan, lahan tersebut akan segera berpindah tangan untuk direklamasi dan dialihfungsikan menjadi sebuah kawasan industri.

Survei Tinggi Permukaan Tanah
Adanya perbedaan tinggi permukaan tanah berarti bahwa ada pula perbedaan frekuensi dan durasi penggenangan air laut yang akan mempengaruhi lapisan tanah dan kondisi salinitas atau akumulasi garam dalam tanah sehingga perbedaan tinggi permukaan tanah berpengaruh besar pada keberhasilan dan pertumbuhan tanaman.

Survei tinggi permukaan tanah diadakan untuk mengetahui tinggi permukaan tanah lokasi penanaman sebelum penanaman dilakukan dan kemudian menetapkan jenis mangrove yang sesuai untuk lokasi penanaman tersebut.

Survei Salinitas
Salinitas merupakan salah satu faktor penting yang sangat mempengaruhi pertumbuhan mangrove. Salinitas diukur dengan menggunakan refraktometer.

Pada saat memperkirakan salinitas, dilakukan pertimbangan faktor-faktor seperti suplai air tawar, lokasi sungai, tinggi permukaan tanah, akumulasi garam karena penyinaran matahari secara langsung atau durasi penyinarannya.

Survei Pemeriksaan Tanah dan Vegetasi Lain
Pekerjaan survei tanah dan vegetasi dilakukan untuk melakukan pengamatan secara visual mengenai sedimen/tanah di lokasi penanaman mangrove karena beberapa spesies mangrove hanya akan tumbuh maksimal pada substrat yang sesuai.

Hasil dari survei akan dijadikan rekomendasi untuk menentukan spesies mangrove apa yang akan ditanam di lokasi penanaman. Selanjutnya, juga dilakukan survei terhadap jenis-jenis vegetasi tanaman lain yang berada di sekitar lokasi penanaman untuk mengetahui karakternya, sehingga bisa ditanggulangi apabila teradi kendala pada saat penanaman.

3. Penyuluhan Konservasi
Penyuluhan konservasi mangrove, dilakukan dengan mengikutsertakan mahasiswa, masyarakat, karang taruna dan perangkat desa setempat. Keikutsertaan mereka, akan memberikan dampak positif secara langsung sehingga bisa terus menerus terlibat dalam pemeliharaan mangrove secara berkelanjutan.

Penyuluhan mengenai metode/tata cara pembibitan dan penanaman mangrove diberikan kepada masyarakat sehingga mereka mendapatkan pengetahuan berharga tentang pengelolaan ekosistem mangrove di daerah mereka.

Pekerjaan penyuluhan konservasi diadakan dalam format sambung rasa dengan mendatangkan ketua kelompok nelayan, perangkat desa dan karang taruna setempat.

Penyuluhan mangrove dapat dilakukan di balai desa, rumah warga atau balai pertemuan lainnya, yang melibatkan warga setempat.

Sebelum melakukan tahap selanjutnya, maka penyuluhan dan sosialisasi mengenai ekosistem mangrove ini sangatlah penting dilakukan, untuk mengajak partisipasi masyarakat di sekitar lokasi dalam usaha rehabilitasi mangrove yang kita lakukan.

Penyuluhan bisa mengajak partisipasi masyarakat sekitar, pelajar dan mahasiswa yang dilakukan di balai desa, gedung sekolah atau gedung pertemuan setempat.

Setiap peserta penyuluhan konservasi, diberikan beberapa buah fasilitas seperti brosur ajakan untuk mengenal mangrove, kaos, stiker dan buku tentang resep panganan dari tumbuhan mangrove dan pendayagunaan ekosistem mangrove.

4. Konservasi
Penyiapan Buah (Propagul)
Propagul mangrove diusahakan berasal dari lokasi setempat atau lokasi terdekat. Buah dapat diperoleh dengan cara mengambil buah-buah yang telah jatuh atau memetik langsung dari pohonnya.

Sebaiknya, pengumpulan buah dilakukan secara berulang dengan interval waktu tertentu. Pada saat memetik buah secara langsung dari pohon induknya harus dilakukan secara berhati-hati, jangan sampai bunga dan buah yang belum matang berjatuhan. Untuk memperoleh buah yang baik, dapat dilakukan antara bulan September sampai dengan Maret.

Seleksi buah tergantung pada karakteristik jenisnya. Namun biasanya, buah dipilih berasal dari buah yang matang, sehat, segar dan bebas dari hama. Ciri kematangan dapat dilihat dari warna kotiledon, warna hipokotil, berat buah atau ciri lainnya.

Sebelum digunakan untuk pembibitan, buah dapat disimpan sementara waktu. Buah dimasukkan dalam ember atau bak yang berisi air penuh, dengan posisi tegak, dan diletakkan di tempat yang terlindung dari sinar matahari. Lama penyimpanan maksimal adalah 10 hari.

Pembuatan Bedeng Persemaian
Pemilihan Tempat
Tempat yang akan digunakan untuk persemaian bibit dipilih lahan yang lapang dan datar. Jaraknya dengan lokasi tanam diusahakan sedekat mungkin, supaya lebih efektif dalam pengangkutan bibitnya.

Lahan yang digunakan untuk pembibitan harus terendam saat air pasang dengan frekuensi lebih kurang 20-40 kali/bulan, sehingga tidak memerlukan penyiraman.

Pembuatan Bedeng Persemaian
Bedeng dibuat dari bambu yang kuat. Ukuran bedeng disesuaikan dengan kebutuhan. Umumnya berukuran 1×5 m atau 1×10 m dengan tinggi 1,5-2 m. Bedeng diberi naungan ringan dari daun nipah, kelapa, ijuk, rumbia, alang-alang atau sejenisnya.

Media (dasar) bedeng adalah tanah lumpur di daerah sekitarnya. Di atas media (dasar) dilapisi plastik yang tebal untuk mencegah agar akar tidak menembus ke dalam tanah. Bila dibuat lebih dari 1 bedeng, bedeng satu dengan bedeng lainnya diberi jarak setengah meter, yang digunakan sebagai jalan kerja. Untuk mempermudah jalan, di sekitar bedeng dibuat jembatan.

Salah satu bedeng persemaian mangrove milik KeSEMaT, yang berada di Teluk Awur, Jepara.

Bedeng berukuran 1×5 m dapat menampung bibit dalam polibek ukuran 10×50 cm atau dalam botol air minuman bekas (500 ml) sebanyak 1200 bibit, atau sebanyak 2250 unit untuk bedeng berukuran 1×10 m.

Pembibitan
Membibitkan mangrove susah-susah gampang. Dengan ketelatenan dan kesabaran, kalau berhasil tumbuh, maka kita akan memberikan hak hidup dan turut menyelamatkan ekosistem mangrove dari kepunahannya di masa depan.

Tahap Pekerjaan Konservasi
Pemeliharaan Jenis pada Setiap Tapak
Sebelum kita menyurvei lahan dan mengetahui karakteristik dari substratnya, kita tidak dapat menentukan mangrove apa yang cocok untuk ditanam di lokasi tersebut. Karena berbeda spesiesnya maka akan berbeda pula tingkat adaptasinya terhadap lingkungan.

Rhizophora spp dapat tumbuh dengan baik pada substrat (tanah) yang berlumpur dan dapat mentoleransi tanah lumpur berpasir, di pantai yang agak berombak dengan frekuensi genangan 20-40 kali/bulan. Rhizophora stylosa dapat ditanam pada lokasi bersubstrat (tanah) pasir berkoral. Avicennia spp lebih cocok ditanam pada substrat (tanah) pasir berlumpur terutama di bagian terdepan pantai dengan frekuensi genangan 30-40 kali/bulan.

Bruguiera spp dapat tumbuh dengan baik pada substrat (tanah) yang lebih keras yang terletak ke arah darat dari garis pantai dengan frekuensi genangan 30-40 kali/bulan. Ceriops spp dapat tumbuh baik pada substrat pasir berkoral dengan frekuensi genangan 30-40 kali/bulan.

Excoecaria spp tumbuh dengan baik pada substrat tanah lumpur berpasir. Frekuensi genangan air yang baik 20-40 kali/bulan namun dapat mentolerir dibawah genangan frekuensi 20 kali/bulan bahkan tanpa genangan.

Persiapan Tapak
Sebelum dilakukan penanaman, lokasi penanaman telah disiapkan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada saat penanaman. Beberapa pekerjaan yang telah dilakukan adalah pembersihan lokasi penanaman dari vegetasi tumbuhan pengganggu dan pekerjaan penancapan ajir (potongan bambu dengan panjang 1 m yang diikatkan dengan bibit mangrove menggunakan tali rafia).

Ajir dari bambu membantu bibit mangrove agar tidak roboh dari terjangan ombak.

Khusus untuk penancapan ajir, hal ini sengaja dilakukan dengan tujuan mempermudah dan mempercepat waktu penanaman. Lokasi penanaman mangrove dapat dilakukan di kawasan hutan lindung, hutan produksi dan kawasan budidaya.

Mangrove dapat juga ditanam di daerah pantai dengan lebar sebesar 120 kali rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan rendah yang diukur dari garis air surut terendah ke arah pantai.

Bila mangrove akan ditanam di tepian sungai, maka bisa ditanam di areal yang memiliki lebar 50 m ke arah kiri dan kanan tepian sungai, yang masih terpengaruh air laut.

Mangrove dapat juga ditanam di tanggul, pelataran dan pinggiran saluran air tambak. Lahan yang digunakan untuk menanam mangrove harus bersih dari rumput liar. Sebelum mangrove ditanam dibuat terlebih dahulu jalur tanam. Jalur tanam dapat dibuat dengan menggunakan tali rafia dengan dibuat simpul-simpul, jarak simpul satu dengan yang lainnya adalah satu meter.

Pada setiap simpul dipasang ajir-ajir dengan menggunakan patok dari bambu yang panjangnya 75 cm dan berdiameter ± 1 cm. Ajir ditancapkan ke lahan dengan tegak sedalam ± 50 cm.

Pemasangan ajir ini bertujuan untuk: (1) mempermudah mengetahui tempat bibit akan ditanam, (2) tanda adanya tanaman baru, (3) menyeragamkan jarak dan (4) membuat bibit mangrove tegak dan tidak mudah rebah bila sedang terjadi air pasang.

Untuk mempermudah pekerjaan, baik pada saat persiapan lahan, penanaman maupun perawatan pada lahan dibuat jalan atau jembatan yang mengitari lahan selebar satu meter.

Pengangkutan dan Pendistribusian Bibit
Bibit diambil dari kebun bibit dan diangkut dengan menggunakan armada truk menuju ke sekitar lokasi penanaman. Selanjutnya, bibit mangrove disimpan, diletakkan dan diatur sedemikian rupa sehingga bisa tersusun secara rapi, di lokasi yang terlindung dari sinar matahari secara langsung. Kemudian, bibit mangrove mulai didistribusikan ke lokasi penanaman.

Apabila lokasi tapak berada di antara sungai, bibit bisa didistribusikan ke lokasi penanaman dengan menggunakan armada perahu. Setelah semua bibit terdistribusikan dengan baik di lokasi penanaman, pekerjaan selanjutnya adalah penancapan ajir.

Penancapan Ajir
Kegiatan penancapan ajir dilakukan dengan dua tujuan, yaitu: (1) sebagai penanda lokasi penanaman bibit mangrove sehingga akan mempermudah peserta dalam melakukan penanaman; (2) penggunaan ajir juga berfungsi agar bibit-bibit mangrove yang ditanam bisa berjajar secara rapi sehingga mempermudah dalam penghitungan kelulushidupan pada saat pekerjaan pemeliharaan dan monitoring; (3) ajir berguna menjaga bibit mangrove tidak roboh pada saat terjadi air pasang.

Penanaman
Pada tahap penanaman, spesies mangrove dikelompokkan berdasarkan spesiesnya. Bibit mangrove ditanam di lokasi penanaman dengan teknik penanaman mangrove menggunakan ajir. Penggunaan ajir berguna untuk menjaga bibit mangrove tidak tumbang ketika terkena ombak.

Jarak tanam adalah ± 1×1 m. Penanaman mangrove diatur sedemikian rupa sehingga ketiga jenis mangrove tidak tercampur supaya tidak merubah sifat alami mangrove, yaitu membentuk tegakan murni.

Program penanaman mangrove melibatkan semua stakeholder mangrove di lokasi sekitar, untuk menjaga keberlangsungannya di masa depan.

Untuk mendidik masyarakat, dianjurkan untuk mengikutsertakan masyarakat sekitar tapak dengan cara melibatkan mereka secara langsung mereka pada saat penanaman. Dengan demikian, diharapkan muncul rasa kepemilikan tanaman mangrove, di areal penanaman.

Selanjutnya, usaha ini juga dilakukan untuk mempermudah pekerjaan, pada saat tahap penyiangan dan pemeliharaan, karena masyarakat bisa dengan mudah diajak bekerja sama. Hal ini karena mereka telah merasa memiliki mangrove yang mereka tanam.

Cara Penanaman
Mangrove ditanam di lahan yang telah disediakan dengan cara membuat lubang di dekat ajir-ajir, dengan ukuran lebih besar dari ukuran polibek dan dengan kedalaman dua kali lipat dari panjang polibek.

Bibit ditanam secara tegak ke dalam lubang yang telah disediakan dengan cara melepaskan bibit dari polibek secara hati-hati, dan jangan sampai merusak akarnya.

Sela-sela lubang di sekeliling bibit, ditimbuni dengan tanah. Bibit yang telah ditanam, batangnya diikat dengan ajir-ajir, supaya tidak mudah rebah bila terjadi air pasang.

Bahan Bacaan
Bengen, D. G. dan Adrianto. 2001. Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Pusat Kajian Pesisir dan Lautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

KeSEMaT dan Dinas Kelautan dan Perikanan Pemerintah Kota Semarang. 2007. Laporan Akhir Konservasi dan Pemulihan Kualitas Lingkungan. KeSEMaT dan Dinas Kelautan dan Perikanan Pemerintah Kota Semarang. Semarang.

Kitamura, S. 1997. Handbook of Mangroves in Indonesia. Bali and Lombok. ISME and JICA. Bali.

Nontji, A. 1987. Laut Nusantara (Marine Nusantara). Djambatan. Jakarta, Indonesia.

Rusila Noor, Y., M. Khazali, I. N. N. Suryadiputra. 1999. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. PKA/WI-IP. Bogor.

Saenger, P., E. J. Hegerl & J. D. S. Davie. 1983. Global Status of Mangroves Ecosystems. IUCN Commission on Ecology Papers No. 3.

Samingan, M. T. 1980. Notes on The Vegetation of The Tidal Areas of South Sumatra, Indonesia, with Special Reference to Karang Agung dalam International Social Tripocal Ecology. Kuala Lumpur.

Taniguchi, K., S. Takashima, O. Suko. 1999. Manual Silvikultur Mangrove untuk Bali dan Lombok. Departemen Kehutanan dan Perkebunan Republik Indonesia and Japan International Cooperation Agency. Bali.

Tomlinson, P. B. 1986. The Botany of Mangroves. Cambridge University Press, Cambridge. U. K.

Wightman, G. M. 1989. Mangroves of The Northern Territory. Northern Territory Botanical Bulletin No. 7. Conservation Commission of The Northern Territtory, Palmerston, N. T., Australia.

Wawancara dengan Suyadi, Tokoh Mangrove Rembang, Mantan Ketua Kelompok Tani Mangrove Sidodadi Maju.

Wawancara dengan Aris Priyono, Pendiri KeSEMaT, Semarang.

(Sumber foto: KeSEMaT).

Siti Nurhidayati
Ordinary woman with extraordinary God.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *