HOME > MANGROVER > Asal Indonesia, Inilah KeSEMaTUSTIK, Grup Band Mangrove Pertama di Dunia

Asal Indonesia, Inilah KeSEMaTUSTIK, Grup Band Mangrove Pertama di Dunia

MANGROVEMAGZ. Sekumpulan anak muda Semarang membuktikan kepeduliannya terhadap mangrove dengan cara membentuk grup band yang khusus menciptakan lagu-lagu bertema mangrove saja.

Adalah KeSEMaTUSTIK, grup band yang digawangi oleh mahasiswa dari Ilmu Kelautan UNDIP yang semuanya merupakan Anggota KeSEMaT ini, sudah berhasil meluncurkan single perdananya, yaitu Mangrove Hidup Kita (MHK). Hebatnya lagi, mereka juga sudah me-release video klipnya di YouTube dan sudah ditonton ribuan orang.

Tahun 2016 lalu, mereka juga didapuk menjadi salah satu pengisi acara jazz terbesar di Semarang, yaitu Loenpia Jazz. Penasaran dengan grup band mangrove asli Indonesia, yang kabarnya satu-satunya dan baru pertama kali terbentuk di dunia, ini (?) Kami mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai salah satu personelnya, yaitu Rohmat Kuslarsono, yang merupakan leader dari grup ini. M adalah MANGROVEMAGZ dan R adalah Rohmat:

M: Bagaimana awal mulanya grup ini dibentuk?
R: KeSEMaTUSTIK lahir sejak tahun 2010, jadi tahun ini sudah menginjak usianya yang ketujuh. Dibentuk oleh alumni KeSEMaT yang tergabung dalam yayasan Inspirasi Keluarga KeSEMaT (IKAMaT), Mas Aris Priyono, awalnya hanya untuk menyalurkan hobi bernyanyi dari beberapa anggota KeSEMaT, namun pada akhirnya dikonsep lebih serius menjadi salah satu media kampanye KeSEMaT melalui musik. KeSEMaT sendiri punya banyak media kampanye lain, selain KeSEMaTUSTIK.

M: Namanya unik, apa arti dan filosofinya?
R: Itu artinya akustik. Awalnya, salah satu IKAMaT, yaitu Mas Dhira yang memberi nama KeSEMaTUSTIK. Nama itu keluar spontan, saat salah satu acara tahunan KeSEMaT di Jepara, yaitu Mangrove Cultivation. KeSEMaTUSTIK berarti KeSEMaT Akustik, yang menyanyikan lagu-lagu mangrove dengan cara akustik. Namun setelah beberapa waktu berjalan, format akustik ini, pada akhirnya disesuaikan dengan kondisi dan tempatnya.

M: Bagaimana mengenai personelnya? Ada sembilan orang, ya. Banyak sekali?
R: Personel awal hanya tiga orang yang dibantu satu additional player. Tapi, berkembang seiring waktu. Dari tiga menjadi lima dan sembilan orang. Sampai saat ini, setelah launching single pertama, yaitu MHK, personel kami rombak lagi menjadi tiga orang, selebihnya additional, saja.

M: Kabarnya sudah pernah nyanyi di depan Gubernur Jawa Tengah?
R: Benar. Saat itu diundang KOMPAS, dalam gathering Buka Puasa Bersama di Semarang. Kebetulan KeSEMaT, sudah lama bekerja sama dengan KOMPAS. Kami mengisi acara, membawakan lagu-lagu mangrove kami dan lingkungan lain, juga lagu religi. Senang sekali, Pak Bibit Waluyo, gubernur waktu itu, bisa hadir dan menyaksikan langsung perform kami.

M: Sudah manggung ke mana saja, nih. Pernah satu panggung sama Dewa Budjana dan Calvin Jeremy, ya?
R: Kami pernah di MANGROVEST 2012. Yang satu panggung bareng Dewa Budjana dan Calvin Jeremy di event Loenpia Jazz 216. Lalu, kami juga mengisi seminar nasional, acara-acara amal dan kampus, juga di mall-mall.

KeSEMaTUSTIK manggung di MANGROVEST 2012.

M: Bagaimana proses MHK? Lagunya keren, dan sangat memotivasi.
R: Terima kasih, kebetulan itu saya yang menciptakan, dibantu Reza di liriknya. Kami merekamnya di salah satu studio musik di Semarang. Lumayan cepat, seminggu sudah jadi, mulai dari take vokal, aransemen musiknya sampai finishing lain. Video musiknya dibantu Mas Ardhi, salah seorang mahasiswa desain komunikasi visual di Semarang, yang kebetulan sedang ada tugas akhir.

M: Apa yang coba disampaikan dalam MHK?
R: Itu lagu yang berpesan sederhana, intinya saya dan Reza ingin mengatakan kalau mangrove itu unik, penting banget fungsi dan manfaatnya bagi kehidupan di bumi. Untuk itulah, kami ingin mengajak semua yang mendengarkan, agar selalu mencintai dan menyayangi hutan mangrove dan warga pesisirnya, yang akhir-akhir ini sering mendapatkan tekanan dari berbagai pihak.

M: Secara singkat, apa yang terjadi dengan hutan mangrove Indonesia?
R: Banyak dijarah, ditebang, dirusak untuk reklamasi, pertambakan, jalan tol dan alih fungsi lahan, lainnya. Kondisinya makin parah dengan semakin banyaknya manusia yang lahir dan membutuhkan perumahan dan leisure lainnya. Kita menimbun laut menjadi daratan, yang tak semestinya dilakukan. “Rumah” mangrove dijarah manusia, sehingga bencana pesisir, seperti rob, penurunan tanah, sanitasi lingkungan yang buruk, terjadi di semua pesisir, tak hanya di Indonesia saja, tapi di kota-kota pesisir di seluruh dunia.

M: Menakutkan sekali, ya. Apakah MHK sudah cukup untuk mengkampanyekan pelestarian mangrove, mengingat bencana pesisir yang disebutkan tadi?
R: Tentu saja, belum. Kedepan kami ada rencana membuat mini album, yang berisikan beberapa buah lagu mangrove. Sudah ada Sepasang Sepatu Merah, Mangrover Indonesia, Dialah Hijauku dan lagu mangrove lainnya yang akan direkam. Doakan, dalam beberapa waktu, kami akan masuk studio rekaman lagi.

M: Saya penasaran dari tadi, apakah KeSEMaTUSTIK hanya akan membuat dan menyanyikan lagu-lagu bertema mangrove, saja? Bicara bisnis, nampaknya pangsa pasarnya tidak terlalu lebar?
R: Anda benar. Tapi, kami memang tak berniat ke jalur bisnis. Para personel kami, bahkan mendanai proyek single MHK dan mini album KeSEMaTUSTIK.

M: Wah, keren sekali. Bicara idealisme, apakah terkadang sedikit mengganggu apabila grup ini diminta menyanyikan di luar lagu mangrove. Pada saat show, pasti sering diminta, bukan?
R: Iya, sering sekali. Kalau soal ini, tak masalah, bagi kami. Di pesisir, kami bahkan menyanyikan dangdut, campur sari, juga lagu lainnya, sesuai permintaan. Tapi, pasti MHK selalu kami nyanyikan. Justru idealisme kami, membuat KeSEMaTUSTIK unik, makin dikenal sebagai satu-satunya grup musik mangrove, format band.

KeSEMaTUSTIK tampil dihadapan Gubernur Jawa Tengah.

M: Menarik. Dan, benarkah KeSEMaTUSTIK, satu-satunya grup musik mangrove di dunia?
R: Soal itu kami kurang tahu, tapi kami dengar dari fans, memang seperti itu. Kami tahu, ada grup musik bernama Mangrove dari Belanda, tapi mereka memberi nama grupnya seperti itu karena mengambil filosofi akar mangrove. Alirannya lebih ke rock progresif, dan sama sekali tak berbau mangrove, dalam lagu-lagu yang diciptakannya.

M: Bila pasarnya sangat segmented, dari mana saja biasanya pihak yang mengundang grup band mangrove ini?
R: Kebanyakan yang mengundang kami phak pemerintah, EO lingkungan, pernah juga mengisi beberapa kali event umum di Semarang, acara-acara mahasiswa, dan masih banyak lagi. Idealisme kami dalam menyuarakan penyelamatan mangrove, agaknya tak terlalu berpengaruh terhadap tawaran manggung.

M: Bagaimana rencana kedepan KeSEMaTUSTIK?
R: Tetap fokus dengan idealisme kami, dan doakan, segera keluar mini album mangrove kami.

M: Terakhir, apa yang ingin disampaikan kepada masyarakat Indonesia, untuk kampanye penyelamatan mangrove?
R: Pesan kami, pelajari mangrove lebih dalam lagi. Ekosistem ini, penyangga kehidupan di bumi, yang menjamin masa depan kita. Bersama memangrovekan masyarakat dan memasyarakatkan mangrove.

Itulah bincang-bincang kami dengan KeSEMaTUSTIK. Sangat inspiratif. KeSEMaTUSTIK memberikan banyak informasi, inspirasi dan motivasi kepada kita semua bahwa mengkampanyekan penyelamatan hutan mangrove, tak hanya bisa dilakukan dengan cara menanam mangrove saja, tetapi juga bisa dilakukan dengan musik dan media lainnya, sesuai dengan keahlian dan latar belakang kita, masing-masing.

Mau tahu lebih lanjut tentang KeSEMaTUSTIK? Anda bisa kepoin Instagramnya @KeSEMaTUSTIK. Bagi yang penasaran dengan video musik KeSEMaTUSTIK, lihat dan dengarkan MHK di bawah ini:

(Sumber foto: KeSEMaTUSTIK).

Siti Nurhidayati
Ordinary woman with extraordinary God.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *