HOME > MAGZROVER > Mangroveku Lestari, Masa Depan Berseri

Mangroveku Lestari, Masa Depan Berseri

MANGROVEMAGZ. Seperti yang sudah diketahui bersama jika Indonesia merupakan negara maritim dan mempunyai garis pantai terpanjang di dunia. Dari hal tersebut, tersimpan kekayaan alam yang tiada bandingnya di dunia. Garis pantai atau daerah pesisir yang merupakan kawasan peralihan antara daratan dan lautan, yang tentunya memberikan manfaat biologis dan ekonomi yang tinggi pula. Di kawasan garis pantai atau pesisir tentunya tidak akan lepas dari kata “hutan mangrove”.

Menurut Kusmana (2002), pengertian mangrove adalah suatu komunitas tumbuhan atau suatu individu jenis tumbuhan yang membentuk komunitas tersebut di daerah pasang surut. Hutan mangrove adalah tipe hutan yang secara alami dipengaruhi oleh pasang surut air laut, tergenang pada saat pasang naik dan bebas dari genangan pada saat pasang rendah.

Nybakken (1988) mendefinisikan hutan mangrove sebagai sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan suatu komunitas pantai tropik yang didominasi oleh beberapa spesies pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan.

Alat Pemecah Ombak (APO) dari beton menggantikan peranan hutan mangrove sebagai pencegah abrasi pantai.

Sedangkan secara umum, hutan mangrove memiliki definisi hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau, garis pantai, atau muara sungai yang dipengaruhi pasang-surut air laut.

Manfaat hutan mangrove, diantaranya habitat berbagai jenis fauna; tempat memijah dan mencari makan berbagai jenis ikan, udang, kepiting, dan molluska; proteksi terhadap abrasi, angin kencang, dan gelombang air laut; memelihara kualitas air, penyerap CO2 dan penghasil O2 yang relatif tinggi; penahan intrusi (penyerapan air asin ke daratan); tempat pariwisata; dan sumber pangan masyarakat sekitarnya.

Luas penyebaran mangrove di Indonesia terus mengalami penurunan. Seperti yang dilaporkan Departemen Perhutanan, luas hutan mangrove dari 4,25 juta hektar pada tahun 1982 menjadi sekitar 3,24 juta hektar pada tahun 1987, dan tersisa seluas 2,50 juta hektar pada tahun 1993. Kecenderungan penurunan tersebut mengindikasikan bahwa terjadi degradasi hutan mangrove yang cukup nyata, yaitu sekitar 200 ribu hektar/tahun.

Hal tersebut disebabkan oleh kegiatan konversi menjadi lahan tambak, penebangan liar dan sebagainya. Di tengah-tengah masyarakat Indonesia muncul persepsi yang salah mengenai hutan mangrove. Mereka beranggapan bahwa hutan mangrove-lah yang menimbulkan penyakit malaria muncul. Mereka beranggapan bahwa hutan mangrove merupakan tempat bersarang nyamuk. Tetapi sebenarnya jika habitat mangrove terjaga dengan baik, maka keseimbangan ekosistem akan tercapai. Dan pada akhirnya, nyamuk tidak akan berkembang pesat di daerah itu.

Malaria akan menyebar, justru saat hutan mangrove ditebang, bukan sebaliknya.

Ada persepsi lain mengenai hutan mangrove, yaitu banyak masyarakat pesisir lebih menginginkan wilayahnya digunakan untuk wilayah budidaya perikanan. Mereka menganggap jika hutan mangrove tidak mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Tetapi sebetulnya dengan adanya hutan mangrove maka perkembangan ikan dan kepiting akan lebih meningkat.

Ada satu lagi kendala terkait pembudidayaan mangrove. Di lapangan, banyak sekali lembaga pemerintah dan kemasyarakatan yang mengadakan sosialisasi, penyelamatan langsung, dan penyebarluasan berita mengenai mangrove. Akan tetapi, mereka aktif di saat awal permulaan saja, sedangkan pemantaun ke depan kurang diperhatikan. Maka hal itu akan menimbulkan kesia-siaan.

Oleh karena itu, diperlukan orang-orang yang peduli dengan konservasi mangrove yang tidak hanya antusias di awal akan tetapi juga sampai ke depannya nanti. Diperlukan orang-orang yang tidak hanya mengejar kata “keren” karena telah melakukan konservasi mangrove, tetapi orang yang memang ikhlas setulus hati melakukan konservasi itu.

Sesungguhnya jika kita melakukan konservasi mangrove dengan baik maka masa depan kita jugalah yang baik. Jangan sampai kita menyesal di masa depan nanti. Mari kita rubah pola berpikir kita. Singkirkan anggapan bahwa mengkonservasi mangrove tidak berguna. Mulailah dari hal kecil dan mulai dari diri sendiri. Karena kalau bukan kita, siapa lagi?. Kalau bukan sekarang, kapan lagi?.

(Sumber foto: 1, 2, 3).

Eka Fahruriza
Architecture Engineering at Universitas Diponegoro, Semarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *