HOME > MANGROVING > Lagi Hits di Semarang, Inilah Maroon Mangrove Edu Park

Lagi Hits di Semarang, Inilah Maroon Mangrove Edu Park

MANGROVEMAGZ. Bicara tentang ekowisata mangrove, ada yang lagi hits banget di Semarang, namanya Maroon Mangrove Edu Park (Maroon MEP). Ini adalah ekowisata yang dikelola secara bersama oleh PT. Phapros dan Lanumad yang awal pembangunannya sampai sekarang dibantu oleh KeSEMaT dan Yayasan IKAMaT, selaku konsultan mangrovenya.

Kenapa Maroon MEP jadi nge-hits? Ini karena view yang ditawarkan lumayan menarik. Bayangkan saja, saat masuk ke lokasi, kita “bisa foto” dengan pesawat terbang sebagai latar belakangnya. Kok bisa? Ini karena lokasinya yang memang berada di kawasan bandara Ahmad Yani, Semarang. Kece, kan!

Selain pesawat, ada juga menara pandang yang tingginya kurang lebih 10 meter. Menara ini juga banyak dipakai untuk foto-foto dari atas. Bisa dicek hasilnya di Instagram, keren banget! Untuk itulah, warga Semarang terutama anak mudanya, lagi suka share foto-fotonya di lokasi ini.

Oh, ya. Menurut pengelolanya, namanya Maroon MEP bukan Maron MEP, karena agar lebih kece pengucapannya. Huruf O-nya sengaja dibuat dobel, diadopsi dari nama band Maroon V.

Akses jalan
Gimana cara menuju ke lokasi? Wisata mangrove ini berada persis di belakang bandara, jadi kalau kita mau ke sini, masuk saja ke sebelah kanan bandara, ada tulisan Pantai Maron lalu ikuti petunjuk jalan yang berwarna hijau.

Papan nama menuju Maroon MEP.

Sayangnya, akses masuknya lumayan jelek. Jalannya masih tanah tak beraspal, jadi siap-siap becek saat hujan tiba. Masuknya juga lumayan lama, sekitar 20 menit pakai motor.

Setelah sampai lokasi, kita akan bertemu dengan penjaga karcis dan membayar lima ribu. Terus, masuk lagi ke ekowisatanya dan bayar lagi lima ribu. Untuk parkir, motor dua ribu dan mobil lima ribu.

Kata penjaganya, lima ribu yang kedua ini dipakai untuk donasi tanam mangrove. Jadi, total biaya yang harus dibayar sampai lima belas ribu rupiah.

Nah, setelah sampai di lokasinya, ada pintu gerbang kecil, menara pandang, sekretariat, warung oleh-oleh khas mangrove, mushola, kamar mandi, papan nama spesies, jembatan kelok yang cukup panjang, bibit mangrove, gubug, perahu, tambak dan fasilitas pemancingan bandeng.

Kelebihan dan kekurangan
Maroon MEP punya kelebihan view-nya yang indah, karena kita bisa foto dari banyak sudut, bisa di menara, jembatan kelok, tambak, perahu, gubug, dan masih banyak lagi.

Banyak turis yang mangroving ke sini.

Kekurangannya terletak di jalannya yang rusak, jenis mangrovenya terlihat-sama kurang beragam, kantin dan masih banyak yang harus dibenahi.

Masalah burung migran yang lalu-lalang di lokasi, agaknya juga harus dipikirkan pengelolanya, agar tak mengganggu jalur penerbangan, karena bisa jadi membahayakan pesawat.

Saat ditemui, Cahyadi A. K. dari IKAMaT,  selaku pengelola Maroon MEP menjelaskan bahwa pihaknya tiap bulan mengadakan program MANGROVE TIME dengan cara mengundang perwakilan organisasi, komunitas dan institusi lainnya untuk menanam mangrove di MEP.

“Kami berusaha mempromosikan MEP dengan program MANGROVE TIME. Peserta yang kami undang, kami minta untuk presentasi mengenai profilnya, sebelum kemudian menanam mangrove bersama. Saat ini, kami terus berusaha membenahi fasilitas demi kenyamanan pengunjung, tentu saja tanpa merusak bentang alam mangrove di sini,” ujarnya.

Seperti kata Cahyadi, secara umum, ekowisata yang terus dibenahi dan dikembangkan ini, recommended banget untuk dikunjungi, terutama bagi para mangrover sejati yang ingin melihat keindahan mangrove di pesisir utara Semarang. Buat yang penasaran ingin tahu lebih banyak tentang Maroon MEP, bisa kepoin IG-nya di @MaroonMEP.

(Sumber foto: 1, 2, 3).

Aris Priyono
Mangrover, Mangrove Lover.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *