HOME > MANGROVER > Timbulsloko, Dulu dan Kini

Timbulsloko, Dulu dan Kini

MANGROVEMAGZ. Semenjak air laut memasuki rumah, semenjak itu pula kegiatan mengepel lantai sebelum tidur dilakukan. Kira-kira begitulah rutinitas warga Desa Timbulsloko setiap malam. Hal tersebut dilakukan lantaran sejak tahun 2009 air laut mulai memasuki kawasan pedesaan hingga rumah-rumah dikala air laut pasang. Tidak selesai sampai disitu, mereka juga sering kali dikagetkan dengan munculnya hewan seperti ular bersamaan dengan air yang memasuki rumah.

Banyak warga yang kehilangan tanah, sawah maupun tambak akibat semakin parahnya pengaruh abrasi pantai. Tak ayal wargapun kehilangan tempat tinggal, terutama mereka yang berada di barisan paling depan. Bahkan sarana dan tempat ibadahpun turut terkena dampaknya. Banyak warga yang melakukan peninggian terhadap tempat tinggal mereka.

Sebenarnya kegiatan antisipasi seperti pembuatan tanggul sudah dilakukan semenjak tahun 2008. Warga berbondong-bondong mengisi karung dengan tanah liat untuk selanjutnya dipasang di bibir pantai. Bantuan dari pemerintah maupun swasta pun terus berjalan, seperti pembuatan Alat Pemecah Ombak (APO) yang terbuat dari beton maupun ban.

Selain pembuatan APO warga juga sudah menyadari akan keberadaan mangrove, sehingga penanaman dan pembibitan mangrovepun terus dilakukan. Namun, karena kuatnya faktor alam sehingga pengurangan area daratanpun terus terjadi dan air laut semakin memasuki rumah-rumah warga.

Ditemui di Kantor Departemen Kelautan Perikanan Provinsi Jawa Tengah (4/3/15) di Semarang, H. Nadhiri mengatakan, hal tersebut sangat bertolak belakang dengan budaya warga di beberapa tahun sebelumnya, dimana jika warga melakukan panen hasil tambak, warga bisa mendapatkan 1 kg udang dan juga mendapatkan 10 kg daun mangrove. Semenjak saat itu, warga mulai menebangi mangrove yang tumbuh di sekeliling tambaknya. Namun, kini wargapun menyadari bahwa tambak yang tidak ada mangrovenya lah yang justru saat ini ‘hilang’ terlebih dahulu akibat tergerus ombak.

Workshop bertujuan membantu permasalahan rob di Timbulsloko.

Dibutuhkan suatu sistem yang mampu bekerja bersama alam. Setidaknya itulah yang dilakukan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) asal Belanda, Wetlands International (WI) yang mulai membangun pilot project-nya bertajuk Hybrid Enggineering (HE) di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Suatu sistem yang bekerja berdasarkan prinsip akar mangrove, yakni meredam gelombang, namun juga sekaligus merangkap sedimen sehingga pengembalian daratan yang ‘hilang’ dapat dilakukan.

Sebenarnya pembuatan tanggul dengan meniru sistem perakaran mangrove ini bukanlah suatu hal yang baru, karena sebelumnya sistem ini sudah diterapkan di Belanda, negara yang memiliki ketinggian daratan lebih rendah dari pantainya. Namun, untuk di Indonesia sendiri baru pertama kali dilakukan.

Masih menurut H. Nadhiri, kini warganya sudah tidak merasakan kesulitan seperti yang dialami dahulu. Meskipun warga masih harus tetap mengepel lantainya sebelum tidur, namun setidaknya banjir akibat air laut pasang sudah tidak separah dulu. Dikatakan pula oleh pria yang sudah 2 kali menjabat sebagai kepala desa ini, bahwa warga mengaku senang dengan adanya bantuan ini.

Adanya ‘budaya asing’ inipun disambut baik oleh warga. Mereka sudah bisa menanami daratan yang mulai terbentuk dengan bibit-bibit mangrove.

Hal yang pada awalnya sempat diragukan oleh H. Nadziri ternyata tidak terjadi, “Warga berbondong-bondong untuk membantu dalam pembuatan tanggul ini dan kini mereka sudah mulai bisa merasakan manfaatnya,” ujarnya dengan rona bahagia.

Selanjutnya, dikatakan oleh Apri Susanto selaku Coastal Safety Manager bahwa untuk selanjutnya akan dilakukan penambahan lokasi bagi sistem ini, dengan tajuk Building With Nature maka program ini akan dilakukan di hampir sepanjang pantura Demak.

Hal tersebut bertujuan untuk mengetahui karakteristik masing-masing daerah, baik dari variasi sedimen maupun jenis mangrovenya. Disampaikan pula, bahwa proyek yang pendanaannya berasal dari Pemerintah Belanda ini memilih Demak sebagai lokasi proyek, dikarenakan Demak merupakan lokasi paling terdampak erosi dan abrasi tertinggi di Pulau Jawa.

MANGROVEMAGZ bersama Femke, “HE akan berjalan hingga 2020,” jelasnya.

Harapan mengenai program ini juga disampaikan oleh Femke Tonneijck, PhD selaku Program Manajer WI bahwa program yang akan dimulai awal pertengahan tahun 2015 hingga tahun 2020 ini dapat berjalan dengan lancar dan bisa memberikan hasil yang baik seperti yang telah dilakukan sebelumnya di negara asalnya, yaitu Belanda.

Satu catatan penting yang disampaikan oleh salah satu dinas lingkungan di Demak adalah, kedepan konsep HE harus terus dipantau implementasinya di lapangan, mengingat kondisi di Belanda dan Demak adalah berbeda. Untuk itu, diperlukan monitoring secara terus menerus dan konsisten di lokasi HE, untuk mencegah timbulnya dampak yang tidak diinginkan.

(Sumber foto: 1, 2 & 3: dokumentasi pribadi).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *