HOME > MANGROVER > Kiprah Duo Pengrajin Batik Mangrove Semarang

Kiprah Duo Pengrajin Batik Mangrove Semarang

MANGROVEMAGZ. Adalah Pak Eno, pengrajin batik yang sudah puluhan tahun menggeluti dunia batik dan mempelopori berdirinya Kampung Batik Semarang ini, sudah sering memberikan pelatihan teknik membatik mangrove, yang diciptakan oleh Ibu Lulut dari Surabaya.

Mempergunakan bahan-bahan alami, yaitu propagul salah satu jenis mangrove Rhizophora yang telah membusuk, Pak Eno senang bisa memberikan informasi dan pengetahuan baru kepada generasi muda dan siapa saja yang tertarik dengan batik mangrove.

Pemilik Griya Zie Batik ini, menjelaskan bahwa buah-buahan mangrove, khususnya propagul mangrove yang telah membusuk, dapat dipergunakan sebagai bahan pewarna batik alami. Selain aman dan tidak mencemari lingkungan, hasil dari pewarna batik mangrove ini juga sangat indah, yaitu warna coklat sehingga terlihat sangat elegan.

Zie Batik selain mempergunakan pewarna asli dari mangrove, saat ini juga sedang mengembangkan pewarna alami lainnya dengan motif-motif flora dan fauna mangrove, bekerjasama dengan Batik Bakau dalam rangka mempopulerkan batik mangrove di Semarang.

Pak Eno yang mengembangkan batik mangrove Semarang bersama istrinya ini, berharap dengan semakin populernya batik mangrove yang sudah begitu baik diperkenalkan oleh Ibu Lulut ke seluruh Indonesia bahkan manca negara, maka kehadirannya di Semarang, setidaknya bisa menyadarkan warga pesisir dan kota Semarang, agar segera tersadar akan manfaat mangrove yang luar biasa untuk meningkatkan mata pencaharian dan kehidupam manusia, sehingga tidak akan ada lagi kasus-kasus penebangan mangrove oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Cahyadi
Selain Pak Eno, ada satu lagi pengrajin batik mangrove asal Semarang. Dialah Cahyadi. Ditemui di Griya Batik Bakau Semarang, Cahyadi Adhe Kurniawan yang akrab dipanggil Cahyadi, selaku owner Batik Bakau memberikan penjelasan bahwa batiknya merupakan pengembangan dari batik mangrove yang sudah ada.

Sesuai namanya, Batik Bakau memang terbuat dari propagul (buah dan kecambahnya) bakau. Bakau sendiri adalah nama Indonesia untuk menyebut salah satu jenis mangrove, yang memiliki nama latin Rhizophora spp. Saat propagul bakau jatuh ke tanah, kering dan membusuk, maka inilah yang kemudian menjadi cikal bakal pewarna batik mangrove yang 100% alami. Selain alami, Batik Bakau juga ramah lingkungan karena tidak mengandung bahan kimia, sehingga limbah yang dihasilkan cenderung aman.

“Batik Bakau sengaja tidak mempergunakan campuran bahan kimia apapun dalam proses pewarnaannya. Bahan pewarnanya diambil dari sisa-sisa guguran mangrove, jadi tidak merusak bahkan melestarikan mangrove,” jelasnya. “Minat masyarakat akan Batik Bakau juga lumayan tinggi, sekitar dua tahun beroperasi (wawancara dilakukan pada tahun 2015 – red), kami sudah berhasil menjual beberapa paket Batik Bakau,” tambahnya.

Cahyadi (dua dari kanan) bersama Bupati Belitung Timur (tengah) saat mempopulerkan Batik Bakau di Belitung Timur.

Menurut Cahyadi yang memiliki satu warga binaan kelompok pengrajin batik mangrove di Semarang ini, batiknya sudah sering melakukan pameran, fashion show dan melanglang buana ke beberapa negara di ASEAN serta profilnya juga sudah ditayangkan secara nasional di beberapa stasiun televisi, seperti di program Wide Shot Metro TV. Berada di bawah manajemen CV. KeMANGI, selaku distributor resmi Batik Bakau, pemuda asal Bekasi ini berharap batik mangrovenya makin dikenal di masa datang.

(Sumber foto: KeSEMaT).

Dadang Farista
Kudus – Semarang – Tembalang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *