HOME > MANGROVER > Semangat Mace Agnes Belajar Mangrove di Tanah Jawa

Semangat Mace Agnes Belajar Mangrove di Tanah Jawa

MANGROVEMAGZ. Setelah beberapa hari mengikuti Pelatihan Penguatan Kearifan Lokal Masyarakat Pesisir Mimika di Semarang, saya juga berkesempatan mewawancarai Mace (sebutan Mama dalam bahasa Papua) Agnes yang berasal dari Suku Kamoro dan tinggal di Kampung Tipuka, distrik Mimika Timur.

Pagi itu (6/6/2015) Mace Agnes bersama temannya Mace Lusia sedang menguleni adonan stik mangrove. Mace Agnes menuturkan bahwa ia sangat senang mengikuti acara ini. Di sini ia mendapatkan pengetahuan baru mengenai mangrove.

“Di Papua, mangrove masih belum dimanfaatkan dengan baik, hanya untuk bahan pondasi bangunan dan kayu bakar. Ternyata, di sini mangrove dapat diolah menjadi bahan penganan. Di sini kami diajarkan cara mengolah es cendol mangrove, kue lumpur, dan stik mangrove,” ujarnya. “Kami belajar bagaimana cara mempraktikkannya. Saya sangat senang sekali pada bagian pelatihan ini, karena bisa praktik langsung. Kami masak bersama, ada Mace Lusia, Pace (sebutan Papa dalam bahasa Papua) Marsel, Pace Gerar, Pace Nico, Pace Bakri, dan Pace Oktovianus,” ceritanya panjang lebar dengan logat Papua yang kental.

“Mace Agnes, bagaimana es cendolnya, enak?” tanya saya.

“Enak sekali,” jawabnya penuh tawa

Pace Nico dan Mace Agnes minum es cendol mangrove selepas pelatihan.

Setibanya ia di tanah Papua nanti, Mace Agnes berniat untuk menerapkan ilmu yang ia dapat dari tanah Jawa ini, kepada masyarakat di sana sehingga Mace-Mace lainnya di Papua, juga akan mengetahui manfaat lain dari mangrove.

Mangrove di sekitar tempat tinggal Mama Agnes tumbuh subur, namun sayangnya masih dianggap sebagai tumbuhan yang menghalangi cahaya dan hanya sebagai sarang nyamuk.

“Tak jarang ada ular diantara mangrove yang tumbuh di hutan. Jadi, tak pernah terpikirkan mangrove bisa juga diolah jadi makanan,” terangnya.

“Diharapkan, dengan bertambahnya pengetahuan masyarakat akan manfaat buah mangrove, maka mereka akan sadar untuk tetap mempertahankan keberadaan mangrove di tanah Papua. Setelah mengikuti pelatihan ini, para peserta tidak hanya belajar mangrove di dalam ruangan akan tetapi, juga diajak untuk mengunjungi Sentra Olahan Mangrove di Semarang bertemu dengan kelompok Bina Citra Karya Wanita dan Srikandi Pantura,” jelas M. Faisal Rachmansyah, Dirut IKAMaT, penyelenggara pelatihan.

(Sumber foto: dokumentasi pribadi).

Siti Nurhidayati
Ordinary woman with extraordinary God.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *