HOME > MAGZROVER > Menanam Bibit Mangrove di Muara Gembong

Menanam Bibit Mangrove di Muara Gembong

MANGROVEMAGZ. Antusias sudah pasti saya rasakan. Setahun berlalu, akhirnya ke Muara Gembong lagi! Cuaca setahun belakangan yang kadang hujan kadang terang ini, membuat saya dan Hanis ragu untuk ke Muara Gembong, mengingat terakhir kali kami ke sana kepleset dan terjerembab ke lumpur beberapa kali.

Kali ini kami siap untuk hal itu. Jangankan jatuh ke lumpur, kami bahkan siap untuk menanam mangrove di antara lumpur hitam yang menggenang. Siap memulai petualangan?

Jalan berlumpur menuju Muara Gembong.

Pagi yang ramai di alun-alun Bekasi. Angkutan dan kendaraan yang seharusnya melalui Jalan Ahmad Yani dialihkan ke Jalan Pramuka karena adanya Car Free Day. Ratusan orang dari berbagai komunitas hadir demi perubahan pesisir Bekasi yang lebih baik. Saya dan Hanis tergabung diantara mereka. Pukul tujuh pagi, kami bergegas menuju Muara Gembong. Beberapa menggunakan sepeda motor sebagai moda transportasi, selebihnya menggunakan mobil.

Saya de ja vu.

“Kangen, yah?” gumam saya kepada Hanis.

Iya. Akhirnya ke Gembong lagi,” jawabnya dengan raut muka sumringah.

Masih dengan jalanan yang sama. Berlubang di sepanjang Jalan Perjuangan hingga Pasar Babelan, masih becek dan berlumpur di depan Pertamina. Semua tak ada yang berubah. Hanya satu hal yang membuat mata kami terus-terusan menoleh ke sebelah kiri jalan. Gunung Gede dan Pangrango memamerkan kecantikannya dari tanah Muara Gembong.

Mereka nampak begitu aduhai dari jarak sejauh ini.

Bahkan, di Bekasi pun amat jarang melihat mereka sejelas ini.

Selamat pagi, cantik…

Semesta mendukung. Kami tiba di Kecamatan Muara Gembong pukul sepuluh pagi. Estimasi waktu dari Kota Bekasi sampai ke Kecamatan masih sama, yaitu dua sampai tiga jam. Usai menunggu peserta lain terkumpul lengkap, kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Saya dan Hanis masuk kedalam kelompok Bang Baniq, akhirnya mendapat giliran untuk naik perahu dengan kapasitas tiga puluh orang.

Tujuan pertama adalah kawasan pesisir Pantai Bahagia. Untuk menuju ke sana masih sama, turun di dermaga kemudian jalan kaki sampai SDN Pantai Bahagia 04. Lokasi penanaman mangrove tak jauh dari sana.

Adzan Dzuhur menyambut kedatangan kami. Menu makan siang berupa nasi, ikan goreng, ayam semur, sayur sop, lalapan dan sambal. Beberapa peserta lainnya lebih memilih untuk membayar semangkuk bakso yang penjualnya kebetulan mangkal di dekat lokasi makan siang. Warga yang ramah menemani canda tawa kami selama mengisi perut dan menunaikan ibadah dzuhur.

Muara Gembong masih terasa terik dengan panas yang menyentuh kulit, masih dengan langit dan awannya yang tergantung seperti menggoda untuk diraih. Sementara kami bergegas menuju tempat penanaman mangrove dan bersiap untuk menjebloskan diri ke dalam lumpurnya yang entah kenapa rasanya seperti bumi yang amblas.

Awannya.

Langitnya.

Pohonnya.

Masih tetap sama. Tak berubah. Perjalanan ini benar-benar membuat saya terlempar ke satu tahun lalu di saat Hanis bela-belain ajak saya ke Muara Gembong siang-siang dan pulangnya kemalaman. Tempat ini tak banyak berubah. Hanya beberapa pohon mangrove yang terlihat masih muda dan baru mulai tumbuh.

Menanam mangrove di lumpur.

Ih, kok pada nyusruk-nyusruk gitu, ya, Kak?” tanya Dilla cemas.

Kayaknya enggak deh, paling cuma selutut tingginya,” jawab Hanis santai. Namun ketika kami mencoba sendiri, ternyata…, lumpurnya amblas.

Gue tenggeleeeem. Tolooong. Ha… ha… ha…,” saya berteriak sambil tertawa ngakak. Rasanya seru berjalan di atas lumpur yang ternyata susah banget gerakin seluruh anggota badan, terutama kaki. Apalagi kami diberi tugas menanam bibit-bibit mangrove ini.

Walhasil, saya, Hanis, Dilla, Kak Davit dan Kak Fahrul yang kebetulan memang saling kenal karena pernah terlibat aksi Bekasi Summiter di Gunung Gede, maka kami membuat kelompok sendiri. Saling tarik menarik dengan Kak Fahrul sebagai yang terlincah, sedangkan saya dan Dilla yang paling gembel. Nggak bisa gerak karena kegendutan.

“Aslinya kalau airnya lagi pasang, itu lumpurnya encer, Kak. Jadi mudah dilewatin. Nah, ini airnya lagi surut, jadi lumpurnya padat,” ujar Bang Dagul selaku panita. Kami yang diberitahu hanya mengangguk-angguk.

Seru! Dulu kami ke sini takut-takut gimana gitu ketika lihat jalanan penuh lumpur. Setahun kemudian malah memasrahkan diri untuk bermain di lumpur. Untung aja nggak ada cacing.

Saking asyiknya bermain di lumpur, kami sampai lupa waktu. Waktu yang seharusnya dipergunakan untuk mandi dan bersih-bersih juga terlewat begitu saja sehingga hari semakin sore dan air laut semakin pasang.

Para nelayan dan panitia acara tak berani melanjutkan perjalanan ke habitat Lutung Jawa. Untunglah saya sudah sempat kes ana sebelumnya.

“Kalau kamu duduk di bawah pohon yang rindang dan sejuk, berterimakasihlah kepada seseorang yang telah menanam bibitnya di masa lampau.”

Sebuah kalimat bijak seketika membuat saya sadar betapa pentingnya menanam pohon dan betapa merugikannya bentuk penebangan liar atau bahkan kebakaran hutan. Tak ada lagi yang dapat menjaga bumi ini selain kita sendiri sebagai penghuninya.

Bekasi itu indah, Kawan.

Thanks to: @SaveMugo, Delegasi Komunitas, Panitia Acara, Peserta Acara, dan lain-lain.

(Sumber foto: dokumentasi pribadi).

Agita Violy
Blogger & Content Writer.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *