HOME > SAVE MANGROVE > Mangrove Potensi Jadi Makanan Pokok Papua

Mangrove Potensi Jadi Makanan Pokok Papua

MANGROVEMAGZ. Sagu merupakan makanan pokok masyarakat di Papua. Tanaman sagu tersebar di wilayah tropika basah Asia Tenggara dan Oseania, terutama tumbuh di lahan rawa, payau, atau wilayah yang sering tergenang air. Areal sagu terluas terdapat di Papua dengan luasan mencapai 1,2 juta ha dan Papua Nugini dengan luas mencapai 1,0 juta ha yang merupakan 90% dari total arel sagu dunia.

Di tanah Papua, tak hanya tanaman sagu yang tumbuh subur, mangrove pun demikian. Mangrove tumbuh secara alami tanpa ada campur tangan manusia. Hebatnya lagi, sekitar 60% mangrove di Indonesia terdapat di Bumi Cendrawasih, ini.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh IPB dan Bimas Ketahanan Pangan Nusa Tenggara Timur, buah mangrove jenis Lindur (Bruguiera gymnorrhiza) atau Taoro (dalam bahasa Papua) memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi dibandingkan jagung, singkong, bahkan sagu.

Buah mangrove jenis Bruguiera gymnorrhiza yang memiliki karbohidrat tinggi.

Kandungan energi buah mangrove ini (371 kalori per 100 gr), lebih tinggi dari beras (360 kalori per 100 gr), dan jagung (307 kalori per 100 gr). Kandungan karbohidrat buah mangrove sebesar (85,1 gr per 100 gr), lebih tinggi dari beras (78,9 gr per 100 gr), dan jagung (63,6 gr per 100 gr) (Fortuna, 2005).

Menurut Sekretaris DKP Mimika Inosensius Yoga Pribadi, SH (Yoga) dalam wawancaranya dengan MANGROVEMAGZ, menuturkan bahwa Taoro apabila dikembangkan dengan serius, memiliki potensi untuk dijadikan sebagai bahan pangan pokok masyarakat Papua.

“Bila ini terjadi, maka hal ini dapat membantu menciptakan panganan baru, meningkatkan kualitas pangan, dan mampu meningkatkan pengelolaan mangrove menjadi lebih baik,” ujarnya. “Apabila masyarakat sudah mengetahui manfaat mangrove secara langsung, maka mereka akan sadar dan masyarakat Papua akan menjaga mangrove dan memanfaatkannya dengan baik,” tambahnya.

Seusai dari Pelatihan Penguatan Kearifan Lokal Masyarakat Pesisir Mimika yang diselenggarakan oleh IKAMaT dan DKP Kab. Mimika diharapkan peserta dapat memiliki peran yang lebih tinggi di lingkungannnya dan dapat berbagi ilmu yang diperoleh dari pelatihan serta mampu melakukan demo masak buah mangrove untuk penganan ke masyarakat pesisir Mimika.

“Tak hanya itu, nantinya juga akan dibentuk kelompok-kelompok pemuda yang cinta ekosistem mangrove. Untuk itu, dibutuhkan peranan pemuda Papua, masyarakat, akademisi, dan pemerintah untuk bersinergi dalam menciptakan masyarakat Papua yang cinta dengan lingkungannya pesisirnya,” pungkasnya.

(Sumber foto: 1, Ganis R. E).

Siti Nurhidayati
Ordinary woman with extraordinary God.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *