HOME > MANGROVE > Kondisi Mangrove dan Pengelolaannya di Kota Semarang

Kondisi Mangrove dan Pengelolaannya di Kota Semarang

MANGROVEMAGZ. Wilayah Kota Semarang terbagi menjadi empat kecamatan, yaitu Kecamatan Tugu, Kecamatan Semarang Barat, Kecamatan Semarang Utara dan Kecamatan Genuk. Berdasarkan hasil perekaman dengan menggunakan Satelit IKONOS-Im (2009) dapat diketahui bahwa luas daratan pesisir di Kota Semarang 9.111,28 ha (47,6%) dan luas wilayah perairannya 10.048,80 ha (52,4%).

Di keempat kecamatan inilah, ekosistem di wilayah Kota Semarang tersebar. Berdasarkan perhitungan, idealnya Kota Semarang memiliki sabuk pantai seluas 325 ha, akan tetapi hanya tersisa 15 ha (4,61%) saja. Berdasarkan data statistik (2008), luasan hutan mangrove di Semarang: sebanyak 11 ha (73,33%) dalam kondisi kritis dan rusak, dan hanya ada 4 ha (26,67%) saja, mangrove di Kota Semarang yang dalam kondisi baik.

Kerusakan hutan mangrove di Kota Atlas ini menyebabkan erosi pantai dan kerusakan pada area tambak produktif warga sekitar. Selain itu, adanya pengaruh reklamasi yang kian bertambah, menyebabkan luasan hutan mangrove semakin berkurang.

Saat ini, tingkat kesadaran masyarakat terhadap pelestarian mangrove di Kota Semarang semakin meningkat. Hal ini terlihat dengan adanya kelompok-kelompok masyarakat pesisir yang telah menyadari eksistensi mangrove bagi wilayah pesisir. Hal ini juga didukung oleh peran dinas dan akademisi dengan melakukan sosialisasi dan pembinaan praktek penanaman mangrove sehingga diharapkan masyarakat pesisir dapat mandiri dalam pengadaan bibit mangrove.

Tak hanya itu, kegiatan rehabilitasi mangrove-pun turut dilakukan, baik fisik maupun vegetatif untuk melindungi mangrove dari terpaan gelombang tinggi yang dapat merusak eksistensinya. Kegiatan perlindungan yang dilakukan dapat dilihat dari munculnya bangunan sabuk pantai mangrove dan bangunan beton di Desa Mangunharjo, Semarang. Akan tetapi, usaha tersebut juga harus terus diimbangi dengan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungannya.

Salah satu hal yang mudah dilakukan dalam turut serta menjaga keberadaan ekosistem mangrove, yaitu dengan tidak membuang sampah sembarangan. Mengapa demikian? Karena hal ini dapat mengganggu mangrove dalam menemukan substrat untuk tempat hidupnya dan menghalangi mangrove dalam memperoleh oksigen dan nutrien dari tanah.

Kegiatan pembinaan lainnya yang dilakukan, yaitu munculnya insan-insan pelestari mangrove, kelompok pelestari mangrove, berkembangnya kelompok kerja mangrove, dan terwujudnya wisata bahari mangrove. Dengan semakin bertambahnya masyarakat yang sadar akan pentingnya peranan ekosistem mangrove, diharapkan luasan mangrove kian bertambah dan kondisi mangrove di Kota Semarang akan semakin pulih.

(Sumber foto: dokumentasi pribadi).

Siti Nurhidayati
Ordinary woman with extraordinary God.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *