HOME > MANGROVER > Upacara Lumpur HUT RI Ke-70: Merdeka dari Ekspansi, Reklamasi, dan Alih Fungsi

Upacara Lumpur HUT RI Ke-70: Merdeka dari Ekspansi, Reklamasi, dan Alih Fungsi

MANGROVEMAGZ. Apa sih, makna kemerdekaan bagi Anda? Bagaimana cara Anda merayakan atau memperingatinya? Sudah barang tentu banyak cara atau ritual yang dilakukan dalam memaknai hari kemerdekaan. Biasanya, masyarakat mengikuti upacara bendera seperti pada umumnya, baik itu di Istana Negara bersama Bapak Presiden, di sekolah bersama Bapak Kepala Sekolah, ataupun di lapangan bersama Bapak Kepala Desa.

Namun, ada hal yang sedikit berbeda yang dilakukan oleh sekumpulan anak muda ini dalam memaknai kemerdekaan. Pada intinya, mereka melakukan hal yang sama, yaitu melakukan upacara bendera, tapi yang menjadi berbeda adalah mereka melakukannya di kawasan mangrove.

Jika biasanya hal yang dilakukan di kawasan mangrove adalah menanam mangrove ataupun berwisata bahkan mencari ikan, maka kali ini upacara pengibaran Sang Merah Putih.

Sekelompok anak muda yang tergabung dalam Kelompok Studi Ekosistem Mangrove Teluk Awur (KeSEMaT) (salah satu Unit Kegiatan Kemahasiswaan yang bernaung di bawah jurusan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro – red) bekerjasama dengan KeMANGTEER (KeSEMaT Mangove Volunteer) Semarang, yaitu sebuah kelompok sukarela yang pro terhadap konservasi mangrove di Kota Semarang, menggelar upacara hari kemerdekaan di kawasan mangrove Trimulyo, Genuk, Semarang.

Dihadiri oleh 20 orang mahasiswa dan pelajar, acara pengibaran bendera berlangsung lancar dan khidmat. Disampaikan Ardyan Syahputra selaku ketua pelaksana kegiatan bahwa acara ini merupakan acara tahunan yang dilakukan oleh KeSEMaT dan KeMANGTEER.

Kali ini upacara menjadi sedikit berbeda karena upacara bendera di lumpur mangrove tidak hanya dilakukan di Semarang, melainkan juga di dua kota lainnya di Indonesia, yaitu Jakarta dan Medan. Jika daerah lainnya menjadi ajang kali pertama, maka pengibaran bendera di kawasan mangrove Semarang menjadi yang ke-8 kalinya, semenjak pertama diadakan tahun 2008 di tempat yang sama.

“Tahun-tahun sebelumnya kami melakukan pengibaran sang Merah Putih di Kawasan Mangrove Mangunharjo, namun kali ini diambil spot yang berbeda dan lebih ekstrem tentunya,” jelas Ardyan.

“Ini adalah kali pertama saya melakukan upacara bendera di kawasan mangrove, jika biasanya saya berbelanja ke mall untuk mendapatkan diskon 17 Agustus, maka kali ini saya mengikuti upacara bendera dan itu di kawasan mangrove,” ujar Hadit, salah satu peserta upacara asal Universitas Diponegoro.

Medan yang dihadapi Hadit dan kawan-kawannya-pun tidak sembarangan, yakni area pertambakan dengan tinggi muka air hampir satu dada orang dewasa.

“Sungguh pengalaman yang berkesan!” ujar pria yang terakhir kali mengikuti upacara bendera pada saat masih SMA, sekitar empat tahun yang lalu.

Upacara di Lumpur Kering
Sama halnya dengan yang dilakukan oleh Agung Purnama Aziz, mahasiswa Jurusan Akuntansi Universitas Bina Nusantara, Jakarta ini dipercaya menjadi ketua panitia dalam kegiatan Upacara Bendera di Lumpur Mangrove yang dilakukan oleh KeMANGTEER Jakarta (KeSEMaT Mangrove Volunteer Jakarta). Meski hanya dihadiri oleh 10 orang, namun tidak mengurangi kekhidmatan acara.

“Jika kawan-kawan KeMANGTEER Semarang melakukannya di kawasan mangrove dengan tinggi muka-air satu dada orang dewasa, maka kawan-kawan di Jakarta melakukannya di kawasan mangrove yang berbeda,” ujarnya.

“Kepada, sang Merah Putih, hormat, grak!” ujar Pemimpin Upacara dengan lantang.

Dijelaskan oleh Agung bahwa pada awalnya mereka mencari spot yang benar-benar berlumpur karena sesuai dengan tema acaranya, yaitu Upacara di Lumpur Mangrove: “Mangrove Merdeka”, tapi karena Jakarta sedang musim kemarau, maka hal tersebut tidak bisa dilakukan. Mereka melakukan upacara di kawasan mangrove yang kering kerontang.

“Maklum, Jakarta sedang musim kemarau,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Ketua KeMANGTEER Jakarta ini.

Salah satu peserta upacara saat prosesi pengibaran sang Merah Putih.

Ada yang menarik, acara yang dimulai tepat pada pukul 09.00 WIB ini, ternyata tidak hanya dihadiri oleh anggota KeMANGTEER Jakarta saja. Monyet hutan yang berada di kawasan mangrove PIK-pun tidak kalah ingin berpartisipasi dan menyaksikan acara pengibaran bendera!

“Saya sempat khawatir kedatangan mereka akan mengganggu jalannya acara, tapi Alhamdulillah, ternyata tidak, he… he… he…,” ujar pria kelahiran Jakarta ini.

Merdeka dari Ekspansi, Reklamasi, dan Alih Fungsi
Tidak hanya Semarang dan Jakarta, Medan-pun melakukan hal yang sama. Donie Latuparisa, ketika dihubungi via e-mail menjelaskan bahwa upacara di lumpur mangrove ini, selain dalam rangka peringatan HUT RI ke-70, juga dijadikan suatu moment yang dimanfaatkan oleh kawan-kawan KeMANGTEER dan KeMANGTEER Medan khususnya, untuk mengkampanyekan isu-isu pesisir agar menjadi isu yang populis dan banyak diketahui oleh masyarakat luas.

Detik-detik pengibaran Sang Merah Putih.

“Di moment HUT RI ini, kita sesuaikan dengan tema kemerdekaan, yaitu pesisir harus merdeka dari aktivitas eksploitasi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Pesisir harus merdeka dari ekspansi, reklamasi, dan alih fungsi!.” ujarnya.

Pria yang juga baru saja terpilih mewakili Sumatera Utara dalam ajang leadership kepemudaan yang diadakan oleh salah satu produk kesehatan ini, juga menambahkan bahwa meski baru pertama acara ini dilakukan di Medan, namun memiliki arti dan tempat tersendiri di masyarakat, karena tidak hanya dihadiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) saja, namun juga melibatkan perangkat Desa Denai Kuala, masyarakat ekowisata Pantai Muara Indah, perwakilan Rumah Baca Bakau dan perwakilan dari Belukap Mangrove Club (BMC).

Peserta upacara di lumpur mangrove di Kawasan Pantai Muara Indah.

Upacara dilakukan di kawasan Pantai Muara Indah, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang. Harapan dengan dilaksanakannya kegiatan ini, yaitu lembaga pemerintah, lembaga swasta, dan para aktivis lingkungan bisa bersinergi dalam menyelesaikan permasalahan di pesisir.

“Masyarakat, khususnya pemuda harus lebih peka dan berkontribusi untuk keseimbangan ekosistem pesisir.” terang Donie.

Banyak cara yang dilakukan dalam memperingati hari kemerdekaan, namun pada intinya, kita memiliki tujuan dan harapan yang sama, yaitu menjadi Indonesia yang lebih baik.

Pembukaan UUD 1945 mengamanatkan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.

Semoga kita merdeka tidak hanya sekedar kata, namun juga merdeka dalam arti sesungguhnya. Selamat berulang tahun yang ke-70. Dirgahayu Indonesiaku, Hijau Mangrove dan Pesisirku. Merdeka!

(Sumber foto: KeSEMaT, KeMANGTEER, dokumentasi pribadi).

Annisa P. Gunawan
Traveller, love nature.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *