HOME > MANGROVER > Resensi Buku 20 Dongeng Mangrove: Kaya Flora, Semarak Fauna Mangrove

Resensi Buku 20 Dongeng Mangrove: Kaya Flora, Semarak Fauna Mangrove

MANGROVEMAGZ. Puluhan flora dan fauna yang berdiam di hutan mangrove, keluar berjejalan, satu persatu di buku ini. Ada Kepiting Ungu Pemanjat, Ikan Gelodok, Kerang Darah, Kelomang, Bakau, Api-api, Bogem, Lindur dan bahkan tumbuhan dan binatang yang mungkin belum familier di telinga kita, dipadupadankan oleh sang Penulis dengan manusia, sehingga terjalin cerita yang begitu apik.

Seri Cerita Mangrove (Cermang) 20 Dongeng Mangrove (20 DM) yang ditulis oleh Aris “Bapak Mangrover Indonesia” Priyono ini, sangat kental dengan pengetahuan mangrovenya.

Bila Anda pernah membaca Buku Beragam Produk Olahan Berbahan Dasar Mangrove dan Panduan Praktis Teknik Rehabilitasi Mangrove di Kawasan Pesisir Indonesia, maka ini adalah buku ketiganya, yang bernuansa berbeda. Bila di dua buku sebelumnya, segmentasi pembacanya adalah dewasa sehingga bahasa yang digunakan lebih ilmiah, maka dengan segmentasi dewasa dan anak-anak, 20 DM hadir dengan bahasa yang lebih sederhana.

Buku ini spesial sekali. Kenapa demikian? Karena setahu penulis, dongeng mangrove memang belum pernah ditulis di Indonesia (?). Dongeng-dongeng yang menemani masa kecil kita, diantaranya Kancil Mencuri Ketimun, Kancil dan Buaya, Legenda Calon Arang, Legenda Tangkuban Perahu, dan dongeng budaya lainnya yang jauh bersentuhan dengan hutan mangrove. 20 DM hadir menggebrak dongeng-dongeng fiksi umum dengan gaya bertutur berbeda, berbalut ilmu pengetahuan mangrove yang mudah dicerna.

Membaca buku ini, bagaikan melayang ke masa kecil kita. Tumbuhan dan binatang yang hidup di hutan mangrove saling berbicara satu sama lain, tak terkecuali dengan manusia. Etika dan budi pekerti yang baik dan luhur, saling menghormati dan menghargai sesama makhluk Tuhan yang berinteraksi di rawa-rawa, adalah ajaran moral penting yang dituturkan sang Bapak Mangrover Indonesia.

Semua dongeng yang dikisahkan di sini sangat membekas, dimana kedua puluh dongeng memiliki karakter kuat dalam usaha penyelamatan hutan mangrove, yang walaupun ditulis dengan gaya bahasa sederhana, namun sangat mengena dan membekas di alam bawah sadar kita.

Tengoklah dongeng Kisah Cinta Ceriops dan Episesarma. Romantisme antara seekor kepiting dan jenis tumbuhan mangrove, tersaji menarik, mengisahkan lika-liku hubungan keduanya yang diselipi dengan informasi pengetahuan mangrove tentang masa berbuah, jenis makanan kepiting dan lain sebagainya.

Di Asal Usul Ikan Gelodok, dongeng penyatuan antara Kodok dengan Ikan, sehingga membuahkan Ikan Gelodok, binatang khas yang hidup di hutan mangrove, juga diolah dengan kalimat yang menarik. Mudah dipahami dan terserap sempurna di pikiran kita.

Interaksi tumbuhan, binatang dan manusia, sangat terasa di Sate Kerang dan Pecel Bu Lastri, yang menyelipkan kampanye pelestarian Kerang Darah di mangrove, dibalut dengan cerita ayah dan dua anak kecilnya yang berebutan sate kerang, saat makan siang di sebuah warung makan. Sungguh cerdik!

Pihak penerbit, yaitu CV. KeMANGI, agaknya sengaja mengonsep terbitan pertama 20 DM ini tanpa banyak gambar, melainkan satu ilustrasi gambar menarik di setiap judul dongeng, yang dibuat dengan aplikasi gambar iPad dari iOS milik Apple dan satu foto hutan mangrove di Pulau Sikambing. Sangat unik!

Namun, kita tak perlu khawatir, karena walaupun tak banyak foto, nama-nama mangrove yang masih asing di telinga, dijelaskan dengan sangat gamblang di footnote. Selebihnya, penerbit ingin membuat imajinasi pembacanya menjadi sangat liar, seperti niche cerpen dan dongeng, pada umumnya. Dan, berhasil!

Buku ini berisi dua puluh kisah menarik, yang bakal jadi dongeng pengantar tidur anak-anak Indonesia dan dunia. Dua puluh dongeng khas mangrove itu adalah:

1. Bakau yang Cemburu – 10
2. Penyesalan Buta-buta – 14
3. Api-api Tak Murung Lagi – 18
4. Kisah Padi dan Lindur – 23
5. Balas Budi Bogem – 28
6. Gedangan Juga Terkenal – 33
7. Brayo Jangan Sedih – 38
8. Tancang Meradang – 43
9. Kebahagiaan Cemara Laut – 49
10. Doa Kepiting Ungu Pemanjat – 54
11. Komang dan Kelomang Raksasa – 59
12. Asal Usul Ikan Gelodok – 66
13. Kisah Cinta Ceriops dan Episesarma – 89
14. Kisah Udang Pistol – 102
15. Rhizophora yang Hebat – 116
16. Asal Usul Akar Bakau – 124
17. Bakau dan Kepiting Ungu – 132
18. Kepiting Mangrove Tak Sombong Lagi – 138
19. Sate Kerang dan Pecel Bu Lastri – 144
20. Jangan Marah Pada Bangau – 151

Segmentasi 20 DM untuk umum, dengan tujuan dibacakan oleh orang tua, atau kakak kepada adik-adiknya. Namun demikian, bahkan siswa-siswi SD (kecuali TK) dapat mencernanya dengan baik.

Buku Cermang 20 DM ini sangat recommended dan bisa dijadikan hadiah untuk orang-orang spesial kita! Belum Mangrover kalau belum punya buku ini. Wajib dimiliki oleh Keluarga Indonesia bahkan dunia, yang ingin memperkenalkan mangrove dengan cara mendongengkannya ke alam bawah sadar generasi penerus kita, sehingga mangrove tak akan hilang dan terus terngiang diingatan manusia.

Buku ini memiliki ISBN 978-602-70630-0-6, setebal 156 halaman dengan lebar 13 cm x 19 cm, dicetak dengan kualitas kertas yang sangat baik, sehingga sayang sekali apabila dilewatkan.

Tunggu apalagi, mari dongengkan indahnya mangrove ke Indonesia dan dunia. Dapatkan segera, sementara hanya dipasarkan via online di Website CV. KeMANGI. Selamat berbelanja!

Spesifikasi Buku
Harga: Rp. 50.000
Terbit: September 2014
Ukuran: 13 x 19 cm
ISBN: 978-602-70630-0-6
Tebal: 156 halaman
Cover: Softcover
Penulis: Aris Priyono
Penerbit: CV. KeMANGI – Semarang

One thought on “Resensi Buku 20 Dongeng Mangrove: Kaya Flora, Semarak Fauna Mangrove

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *