HOME > SAVE MANGROVE > Cara Membibitkan Enam Jenis Mangrove

Cara Membibitkan Enam Jenis Mangrove

MANGROVEMAGZ. Membibitkan mangrove susah-susah gampang. Dengan ketelatenan dan kesabaran, kalau berhasil tumbuh, maka kita akan memberikan hak hidup dan turut menyelamatkan ekosistem mangrove dari kepunahannya di masa depan.

Berikut ini adalah petunjuk praktis pembibitan mangrove. Beberapa keterangan dalam artikel ini, diambil juga dari buku Manual Silvikultur Mangrove yang ditulis oleh Taniguchi, dkk (1999) dan wawancara kami dengan Bapak Suyadi, Tokoh Mangrove dari Rembang.

Secara umum, penanaman mangrove dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan cara menanam langsung buah mangrove (propagul) ke areal penanaman dan melalui persemaian bibit. Penanaman secara langsung tingkat kelulushidupannya rendah (sekitar 20-30 %). Hal ini karena pengaruh arus laut pada saat pasang dan pengaruh predator. Sedangkan dengan cara persemaian dan pembibitan, tingkat kelulushidupannya relatif tinggi (sekitar 60-80%).

Berikut ini diterangkan mengenai bagaimana tata cara pembibitan beberapa jenis mangrove:

1. Rhizophora spp
Buah yang digunakan untuk pembibitan, sebaiknya dipilih dari pohon mangrove yang berusia diatas 10 tahun. Buah yang baik, dicirikan oleh hampir lepasnya hipokotil dari buahnya.

Buah yang sudah matang dari Rhizophora spp, dicirikan dengan warna buah hijau tua atau kecoklatan, dengan kotiledon (cincin) berwarna kuning atau merah.

Propagul Rhizophora yang siap dibibitkan ditandai dengan munculnya cincin kuning diantara buah dan hipokotilnya.

Media yang digunakan untuk pembibitan adalah sedimen dari tanggul bekas tambak atau sedimen yang sesuai dengan karakteristik pohon induknya. Media dibiarkan selama kurang lebih 24 jam agar tidak terlalu lembek.

Media tanam yang sudah disediakan, dimasukkan ke dalam kantong plastik hitam (polibek) berukuran lebar 12 cm dan tinggi 20 cm, yang telah diberi lubang keci-kecil kurang lebih 10 buah.

Buah disemaikan masing-masing 1 buah dalam setiap polibek. Buah ditancapkan kurang lebih sepertiga dari total panjangnya (± 7 cm). Setiap 6-10 benih, diikat menjadi satu agar tidak mudah rebah. Ikatan dibuka setelah daun pertama keluar. Daun pertama akan keluar setelah 1 bulan, daun ketiga akan keluar setelah 3 bulan.

2. Bruguiera spp
Buah dipilih dari pohon yang berumur antara 5-10 tahun. Buah dipilih yang sudah matang dicirikan oleh hampir lepasnya batang buah dari bonggolnya dan warna hipokotil merah kecoklatan atau hijau kemerahan.

Buah yang terkumpul tidak perlu dicuci dengan air, tapi cukup dibersihkan dengan lap dan dipilih buah yang segar, sehat, bebas hama dan penyakit, belum berakar dan panjang hipokotil-nya 10-20 cm.

Bruguiera juga bisa dibibitkan dengan perlakuan khusus, yaitu dengan tidak mencabut kelopaknya yang berwarna merah.

Kelopak buah jangan dicabut atau dilepaskan dengan paksa karena dapat merusak buah. Media yang digunakan untuk pembibitan sama dengan Rhizophora spp. Semua pekerjaan selalu dilakukan di bawah naungan (tidak mendapat sinar matahari secara langsung), supaya buah tidak kering.

Sebelum penyemaian, polibek dibiarkan tergenang oleh pasang. Penyemaian dilakukan pada awal pasang purnama, dimana penggenangannya dapat mencapai hipokotil benih. Penyemaian Bruguiera spp seperti pada Rhizophora spp, tetapi tidak usah diikat.

3. Ceriops spp
Ciri kematangan buah adalah kotiledon berwarna kuning dengan panjang kotiledon 1 cm atau lebih dan hipokotil berwarna hijau kecoklatan. Buah yang terkumpul dicuci bersih dan buahnya dilepas. Kemudian, dipilih benih yang panjang hipokotil-nya 20 cm atau lebih.

Sekilas, propagul Ceriops hampir sama dengan Rhizophora, tapi sangat berbeda. Ceriops lebih pendek, kecil dan langsing.

Penyiapan media untuk Ceriops spp sama dengan penyiapan media semai Rhizophora spp. Penyemaian benih Ceriops spp sama dengan Bruguiera spp.

4. Excoecaria spp
Warna buah dari Excoecaria spp yang telah matang adalah kuning kecoklatan. Buah berbentuk bulat kecil-kecil dan akan jatuh setelah matang. Biji dipilih yang padat dan mempunyai diameter 3 mm atau lebih.

Cara membibitkannya adalah dengan ditebar di parit yang berisi media dan terlindung dari cahaya matahari secara langsung.

Media yang digunakan untuk pembibitan sama dengan Rhizophora spp. Excoecaria spp dan pembibitannya tidak langsung dilakukan pada polibek. Biji dari Excoecaria spp ditebar di parit yang berisi media dan terlindung dari cahaya matahari secara langsung.

Parit dibuat di darat untuk menghindari biji terbawa arus. Setelah daun Excoecaria spp tumbuh 3-5 buah, bibit bisa dicabut dan dipindahkan ke polibek. Setiap satu polibek ditanami satu bibit.

5. Avicennia spp
Ciri kematangan buah adalah warna kulit buah kekuningan, dan kadang kulit buah sedikit terbuka. Buah yang sudah matang mudah terlepas dari kelopaknya. Buah dilepas dari kelopaknya dan dipilih benih yang bebas hama dan beratnya 1,5 gram atau lebih.

Avicennia terkenal sebagai salah satu jenis mangrove yang tepung buahnya bisa diolah menjadi aneka jenis makanan.

Setelah kelopak dilepas, buah direndam dalam air selama satu hari agar terkelupas kulitnya. Buah yang belum terkelupas kulitnya, dapat dikupas dengan tangan. Kemudian, buah dipindahkan ke dalam ember berisi air payau yang bersih.

Penyiapan media semai Avicennia spp tidak berbeda dengan Rhizophora spp. Polibek disiram hingga cukup basah, barulah dilakukan persemaian. Benih disemaikan masing-masing satu buah dalam satu polibek, dengan cara ditancapkan kurang lebih sepertiga panjang benih ke dalam tanah/media.

6. Sonneratia spp
Ambil buah Sonneratia yang telah matang, yang dicirikan dengan telah pecahnya buah secara alami, atau yang telah jatuh ke tanah. Satu buah Sonneratia, akan memiliki ratusan biji yang siap untuk dibibitkan.

Rendamlah biji buah Sonneratia dengan air tawar, selama dua hari, hingga kulit bijinya terkelupas dan berkecambah. Ambillah biji buah Sonneratia yang telah terkelupas dan berkecambah tersebut, lalu bibitkan di tanah berpolibek.

Bila perlu, tanah bisa ditambahkan pupuk kandang, untuk membantu proses pertumbuhan biji Sonneratia. Cara membibitkannya adalah dengan menancapkan bagian yang lebih panjang dari bijinya, ke dalam tanah.

Sonneratia dibibitkan di polibek dengan penyiraman menggunakan air tawar, minimal sekali sehari.

Siramlah dengan air tawar minimal satu kali dalam sehari, bisa pagi atau sore hari. Bibitkan selama tiga bulan hingga berdaun enam (3 pasang). Apabila sudah berdaun enam, maka bibit Sonneratia telah siap untuk ditanam di lokasi penanaman (di tanah pasir-berlumpur).

Hama yang biasa menyerang biji Sonneratia selama pembibitan adalah tikus dan semut. Untuk itu, letakkanlah lokasi persemaian di area yang aman dari tikus dan semut. Lokasi persemaian bisa diadakan di pekarangan rumah dan atau tempat lain yang terlindung dari sinar matahari secara langsung.

Setelah ditanam, jangan lupa untuk memelihara bibit Sonneratia, dengan cara melakukan program penyulaman, apabila ditengarai terdapat bibit-bibit mangrove yang mati, selama ditanam di lokasi penanaman. Selamat mencoba dan mempraktikkan.

Bahan bacaan
Bengen, D. G. dan Adrianto. 2001. Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Pusat Kajian Pesisir dan Lautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

KeSEMaT dan Dinas Kelautan dan Perikanan Pemerintah Kota Semarang. 2007. Laporan Akhir Konservasi dan Pemulihan Kualitas Lingkungan. KeSEMaT dan Dinas Kelautan dan Perikanan Pemerintah Kota Semarang. Semarang.

Kitamura, S. 1997. Handbook of Mangroves in Indonesia. Bali and Lombok. ISME and JICA. Bali.

Nontji, A. 1987. Laut Nusantara (Marine Nusantara). Djambatan. Jakarta, Indonesia.

Rusila Noor, Y., M. Khazali, I. N. N. Suryadiputra. 1999. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. PKA/WI-IP. Bogor.

Saenger, P., E. J. Hegerl & J. D. S. Davie. 1983. Global Status of Mangroves Ecosystems. IUCN Commission on Ecology Papers No. 3.

Samingan, M. T. 1980. Notes on The Vegetation of The Tidal Areas of South Sumatra, Indonesia, with Special Reference to Karang Agung dalam International Social Tripocal Ecology. Kuala Lumpur.

Taniguchi, K., S. Takashima, O. Suko. 1999. Manual Silvikultur Mangrove untuk Bali dan Lombok. Departemen Kehutanan dan Perkebunan Republik Indonesia and Japan International Cooperation Agency. Bali.

Tomlinson, P. B. 1986. The Botany of Mangroves. Cambridge University Press, Cambridge. U. K.

Wightman, G. M. 1989. Mangroves of The Northern Territory. Northern Territory Botanical Bulletin No. 7. Conservation Commission of The Northern Territtory, Palmerston, N. T., Australia.

Wawancara dengan Bapak Suyadi, Tokoh Mangrove Rembang, Mantan Ketua Kelompok Tani Mangrove Sidodadi Maju.

(Sumber foto: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7).

Dadang Farista
Kudus - Semarang - Tembalang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *