HOME > SAVE MANGROVE > Bila Kelomang Tak Hidup di Hutan Mangrove

Bila Kelomang Tak Hidup di Hutan Mangrove

MANGROVEMAGZ. Kepiting Pertapa (Hermit Crab) atau yang lebih umum dikenal dengan nama Kelomang Darat, Kelomang atau Pong-pongan adalah krustasea unik yang hidup di pesisir dan rawa mangrove, dari infra ordo Brachyura, berjenis Coenobita sp.

Di sebuah pasar malam di Banyumanik, Semarang, dibalik warna cangkang palsunya yang telah dilukis sedemikian rupa sehingga menarik minat pembeli, kiranya kita lupa akan bahaya kehidupan dan konservasinya.

Sekilas, apabila kita melihat foto di atas, maka kita akan melihat berbagai jenis permen warna-warni yang sedang digemari oleh anak-anak, saat ini. Padahal, apabila kita perhatikan lebih lanjut foto tersebut, maka kita akan menyadari bahwa ini bukanlah permen, melainkan fauna penghuni ekosistem mangrove, bernama Kelomang!

Kelomang merupakan salah satu binatang yang “masih bersaudara” dengan kepiting, dari keluarga krustasea. Sejak lahir, dia memang tidak memiliki rumah atau cangkang ditubuhnya. Untuk itulah, dia mencari dan memakai rumah dari cangkang keong untuk dijadikan “Tempat-Tinggal-Berjalannya” (TTB).

Selanjutnya, cangkang TTB tersebut, warna-sebenarnya tidaklah seperti permen berwarna-warni, melainkan berbentuk cangkang keong biasa yang berulir. Namun, setelah dilukis dengan cat tertentu oleh sang Penjual, maka berubahlah cangkang-cangkang Kepiting Pertapa ini, menjadi “permen warna-warni”.

Wujud asli Kelomang Darat yang hidup di pesisir dan rawa mangrove.

Berdasarkan hasil pengamatan dari tempat yang saya kunjungi, Hermit Crab ini dijual dengan harga Rp. 5.000,-. Harga yang relatif murah dan barang yang unik, tak ayal lagi membuat banyak diserbu oleh konsumennya, terutama anak-anak.

Dibalik fakta keberadaan Kelomang di pasar malam ini, sebenarnya ada hal negatif yang patut dikhawatirkan. Memperjualbelikan Kelomang tanpa dibudidaya, adalah sebuah tindakan yang tidak baik dan tidak konservatif.

Daur hidup Kelomang. Apabila populasinya menurun, maka akan mempengaruhi keseimbangan ekosistem pesisir.

Dilihat dari sisi ekologis, Coenobita memiliki peranan penting dalam turut serta menjaga aliran energi yang terjadi di rawa mangrove. Daur hidup Kelomang memperlihatkan bahwa dia masuk dalam jaring-jaring makanan yang apabila populasinya berkurang, maka akan mempengaruhi keseimbangan keseluruhan ekosistem.

Ketiadaan Kelomang dalam sebuah ekosistem mangrove, sebagai akibat dari “perbuatan” kita yang menjualnya ke pasar malam, akan membahayakan kehidupannya dan mengancam kelestarian mangrove di masa depan.

Terlebih lagi, para pedagang ini, kiranya juga tidak melakukan penangkaran Kelomang sendiri, melainkan langsung mengambilnya dari alam. Maka, jika Pong-pongan diambil secara terus-menerus secara berlebihan, maka populasinya akan semakin menipis.

Hal ini, tentu saja akan mengakibatkan pada ketidakseimbangan ekosistem mangrove. Semoga saja, kedepan kita lebih bijak dan arif lagi dalam menyikapi fenomena ini, ya. Amin.

(Sumber foto: 1, 2, 3).

Annisa P. Gunawan
Traveller, love nature.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *