HOME > MANGROVE > Dr. Rudhi Pribadi: Mangrove Papua Unik

Dr. Rudhi Pribadi: Mangrove Papua Unik

MANGROVEMAGZ. Di tanah Papua, mangrove memiliki keunikan tersendiri dibandingkan mangrove yang ada di lokasi lainnya. Contohnya, di Papua ditemukan mangrove jenis Lumnitzera merah dan Lumnitzera putih dalam satu ekosistem.

Hal ini terungkap dalam kegiatan Pelatihan Penguatan Kearifan Lokal Bagi Masyarakat Pesisir Mimika Dalam Rangka Pengelolaan Ekosistem Mangrove yang diselenggarakan oleh Yayasan IKAMaT bekerjasama dengan DKP Mimika, Papua yang diselenggarakan di Wisma Pemda Jateng, Semarang, pagi ini. (5/6/2015).

Dr. Rudhi Pribadi dari KeSEMaT UNDIP menyebutkan bahwa hal ini merupakan hal yang unik, karena menurut Tomlinson, kedua jenis mangrove tersebut umumnya ditemukan di lokasi yang berbeda.

Di Jawa, Lumitzera merah ditemukan di Pulau Karimunjawa, sedangkan Lumnitzera putih ditemukan di Pulau Jawa. Selain itu mangrove Rhizophora apiculata juga banyak ditemukan di tanah Papua.

Pada jalur Rembang – Semarang hanya ditemukan 8 jenis mangrove saja, tidak seperti di Papua yang di jarak sekitar 3 – 5 km dapat ditemukan berbagai jenis mangrove.

Mangrove tersebar di daerah tropis dan sub-tropis dengan keadaan terbatas. Lokasi iklim sub-tropis, contohnya berada di Jepang bagian Selatan. Di daerah tropik baru (Amerika hanya ditemukan 10 jenis) sedangkan di tropik lama (Indonesia dan negara sekitarnya ditemukan sebayak 35 jenis mangrove).

Luasan mangrove Indonesia sebesar 18 juta hektar, ini adalah (4%) dari luasan mangrove di dunia dan merupakan yang terbesar. Hutan mangrove Indonesia, sebesar 25% diantaranya ditemukan di Lampung, Segara Anakan, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, dan Papua.

“Tanah Papua dan Papua Barat memiliki luasan mangrove terluas, apabila dikalkulasikan menjadi 60% dari total luasan mangrove di Indonesia. Papua memiliki kemampuan zonasi mangrove alami yang tidak ditemukan di daerah lainnya. Hal-hal inilah yang menjadikan mangrove Papua unik,” jelas Rudhi kepada 15 peserta pelatihan dari dinas dan warga pesisir Mimika.

Hutan mangrove di Mimika, Papua.
Hutan mangrove di Mimika, Papua.

Mangrove sendiri juga disebut hutan berjalan karena kemampuannya yang mampu berkembang biak di daerah lumpur baru, sehingga calon mangrove baru yang tumbuh memiliki kesamaan umur.

Faktor lingkungan yang mempengaruhi ekosistem mangrove, diantaranya: suhu diatas 22 derajat celcius, salinitas, dan substrat.

Kepiting yang berhabitat di Kamora memiliki kebiasaan makan yang berbeda sehingga menentukan persebaran mangrove di Papua.

Antara ekosistem mangrove dan ekosistem lainnya juga memiliki konektivitas yang saling berkaitan sehingga dalam program rehabilitasi mangrove harus mempertimbangkan keterkaitan ekosistem yang terdapat di lokasi tersebut.

Selain di Papua, Pulau Anambas dan Lombok juga memiliki tingkat keanekaragaman mangrove yang tinggi sehingga bukan tidak mungkin tegakan mangrove dapat meredam gelombang tsunami seperti yang terjadi di Aceh.

(Sumber foto: dokumentasi pribadi, 2).

Siti Nurhidayati
Ordinary woman with extraordinary God.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *