HOME > MANGROVER > Hanya di Semarang, Fashion Show Batik Mangrove di Atas Tambak

Hanya di Semarang, Fashion Show Batik Mangrove di Atas Tambak

MANGROVEMAGZ. Semarang merupakan salah satu kota yang memiliki area pertambakan yang cukup luas. Kurang lebih 50% area pertambakan mendominasi wilayah pesisir Semarang. Pemanfaatan area tambak oleh masyarakat bermacam-macam, mulai dari budidaya kerang, udang, bandeng, dan lain-lain.

Area pertambakan di Semarang didominasi oleh bandeng. Tak heran, jika Semarang sangat terkenal dengan bandeng presto-nya dan aneka macam olahan bandeng lainnya, seperti bandeng duri lunak dan bandeng cabut duri.

Salah satu daerah penghasil bandeng adalah Tawang Mas yang lokasinya bersebelahan dengan Bandara Ahmad Yani Semarang (AYS). Pihak bandara bersama Lanumad A. Yani menyediakan lahan tambak, untuk dikelola oleh kelompok petambak, sehingga menghasilkan bandeng sebagai ciri khas Kota Atlas.

Tidak hanya itu, instansi diluar Lanumad A. Yani pun, yaitu PT Phapros Tbk bekerja sama dengan KeSEMaT, ikut membantu melakukan program pemberdayaan masyarakat, seperti pengadaan kebun pembibitan mangrove.

Untuk meningkatkan kinerja bandara, saat ini sedang dibangun jembatan baru sebagai akses menuju bandara. Jembatan tersebut belum dibuka untuk umum, karena konstruksinya belum rampung, sehingga hanya aktivitas tertentu saja yang diijinkan oleh pihak AYS.

Jembatan tersebut berdiri diatas area pertambakan yang dikelola oleh masyarakat Tawang Mas. Dibawah jembatan yang sedang dibangun, terdapat bedeng pembibitan mangrove milik PT Phapros Tbk yang dikelola oleh kelompok tani mangrove. Kelompok tani tersebut bernama Mekar Tani Lindung yang merupakan binaan PT Phapros dan KeSEMaT serta Lanumad A. Yani.

Hari Sabtu, 23 Agustus 2014, ada kegiatan menarik yang dilakukan di jembatan yang berada diatas tambak tersebut!. Apa kegiatan tersebut? Pastinya kegiatan ini bertepatan dengan HUT PT Phapros Tbk yang ke-60, sekaligus merayakan Kemerdekaan RI yang ke-69.

Nah, kegiatan tersebut adalah Fashion Show Batik Mangrove dengan brand Batik Bakau bertema Mahakarya Adiwarna. Bayangkan saja, 20 model yang biasanya berlenggak-lenggok di catwalk hotel atau mall, kini dipindah ke atas area tambak yang penuh lumpur dan “terapung” di rawa mangrove.

“Tema ini saya usung untuk memperkenalkan batik mangrove dalam berbagai motif dan model, serta mengedepankan kampanye mangrove untuk bisa dinikmati oleh semua kalangan”, ujar Defriza selaku desainer Batik Bakau yang memiliki dua kelompok warga binaan di Mangunharjo, Semarang. “Fashion show kali ini, saya melibatkan 20 model pria dan wanita yang berasal dari dalam dan luar kota Semarang, mulai dari kalangan model, mahasiswa, sarjana, hingga duta pariwisata, semuanya antusias mengikuti acara ini”, tambahnya.

Berbagai macam model dan desain dirancang apik pada perhelatan model batik mangrove ini. Kombinasi antara modern, tradisional, corak serta warna alami dari mangrove sungguh menjadi seni yang sangat indah untuk dipandang. Benar-benar epic!

Penampakan catwalk fashion show.
Penampakan catwalk fashion show.

Ditonton oleh 900 lebih pasang mata yang terdiri dari anggota Kodam, Lanumad A. Yani, TNI-AD, Direksi PT. Phapros Tbk, perwakilan Gubernur Jawa Tengah, perwakilan Rektor Universitas Diponegoro, dan perwakilan Rektor Universitas Negeri Semarang, serta tamu undangan lainnya, membuat sang Model-model makin “liar” berlenggak-lenggok di atas catwalk-rawa.

Ditambah lagi dengan layout panggung, catwalk, dan bangku penonton yang dibuat sedekat mungkin dengan model, sedemikian rupa sehingga mereka bisa dengan mudah melihat indahnya corak batik mangrove.

Pertunjukan fashion show diawali dengan masuknya tiga penari latar 3Soem dari Yogyakarta. Dengan gerakan kontemporernya berbalut musik menghentak, mereka berhasil memancing penonton merengsek ke depan.

Setelah penari tampil, musik yang rancak berubah bertempo tetap, sebagai tanda munculnya pria ganteng dan wanita cantik ke panggung catwalk. Yeah, merekalah 20 model Batik Bakau yang dinanti-nanti!

Satu persatu para model mulai masuk berjalan dari sisi kanan dan kiri panggung secara selang-seling menuju catwalk. Dibagian pertama, model berjalan dari panggung sampai kembali ke panggung lagi. Begitu seterusnya hingga 20 model tersebut tampil semua.

Setelah seluruh model berjalan di catwalk, mereka berputar sekali. Saat model berbaris zig zag memenuhi karpet merah, Defriza selaku desainer membelah barisan dan memperkenalkan dirinya. Penonton pun bertepuk tangan tanda kekaguman akan desain dan corak batik yang ditampilkannya.

“Saya menampilkan Batik Bakau dalam beragam pesona warna dan desain, ada rompi, kemeja, dress, dan blazer, serta kebaya,” ujarnya saat usai tampil diatas panggung. “Batik tidak melulu tampil dalam model kuno atau jadul, tapi batik bisa mengikuti perkembangan fashion style yang ada saat ini. Batik Bakau sebagai salah satu batik dengan pewarna alami memiliki pesan-pesan tersirat, diantaranya pesan konservasi mangrove, dan pesan budaya yang tertuang didalam motifnya” tambahnya.

Dalam pementasan ini, Defriza melibatkan model yang tidak sedikit, mencapai 20 orang. Sudah barang tentu dalam mempersiapkannya banyak menemui tantangan dan kesulitan. Namun, ditangan Defriza justru ini menjadi motivasi tersendiri untuk menyukseskannya.

“Dalam merancang fashion show ini, saya punya tantangan tersendiri, yaitu harus berani mengambil resiko untuk mencoba memadukan warna alami Batik Bakau dengan warna modern saat ini, tentu hasilnya sangat menarik apabila perpaduan warnanya pas,” pungkasnya tegas.

Gagahnya rompi Batik Bakau bila dipakai pria.

Nah, bagi Anda yang baru mengenal batik dengan pewarna mangrove, tentu ini menjadi hal yang menarik untuk diketahui. Ternyata dengan mangrove, bisa dihasilkan karya yang indah. Tentunya dengan sentuhan seni dan kreatifitas yang tinggi akan bisa menghasilkan kualitas produk yang mampu bersaing dipasaran.

Dengan luas hutan mangrove di Indonesia yang semakin berkurang setiap tahunnya, ini bisa sekaligus dijadikan media kampanye untuk pelestarian mangrove kepada masyarakat luas, agar tetap menjaga dan melestarikannya untuk kehidupan yang lebih baik. Anda setuju?

(Sumber foto: dokumentasi pribadi).

Ganis Riyan Efendi
Pemred di MANGROVEMAGZ. I am mangrovepreneur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *