HOME > SAVE MANGROVE > Bibit Mangrove Anda Dimakan Kambing? Begini Cara Mencegahnya

Bibit Mangrove Anda Dimakan Kambing? Begini Cara Mencegahnya

MANGROVEMAGZ. Pernahkah Anda menemukan bibit mangrove Anda mati dimakan kambing? Selepas Anda menanam dan kembali lagi untuk melakukan program pemeliharaan, tiba-tiba daun-daun bibit mangrove Anda terkikis habis tanpa sisa, dimangsa kambing. Kalau tak bikin pusing, setidaknya kejadian ini bakalan bikin Anda stress, apalagi bila Anda adalah seorang manajer proyek rehabilitasi mangrove yang harus menemani tim evaluator, saat cek dan ricek di tahap monitoring dan evaluasinya.

Sebagai informasi, kambing menjadi masalah karena sebagian warga pesisir, terutama di Pantura Jawa banyak menggembalakannya di kawasan mangrove. Tiga lokasi, yaitu Demak, Semarang dan Jepara dapat dijadikan contoh bagi keberadaan kambing yang oleh sebagian warganya disebut sebagai hama.

Di Demak, kota yang berbatasan dengan Semarang, salah seorang warganya menyebut tiga W sebagai hama utama yang menyebabkan kerusakan mangrove di sana. Tiga W itu adalah Wedhus (kambing), Wideng (kepiting) dan Wong (orang).

Cara mengatasi
Sebenarnya, hama kambing ini dapat dicegah dan diantisipasi di awal proyek rehabilitasi mangrove, yaitu dengan melakukan studi pendahuluan mengenai hambatan yang sekiranya muncul pada saat pelaksanaan proyek.

Kambing dapat dicegah berkeliaran di lokasi sekitar penanaman mangrove Anda, dengan cara mengadakan perkumpulan dengan warga pesisir, sebelum program penanaman mangrove dimulai, terutama dengan warga yang memiliki kambing agar tidak menggembalakannya di sekitar area penanaman mangrove. Apabila disepakati, dengan adanya kompensasi tertentu, biasanya cara ini efektif.

Namun, apabila pada saat perkumpulan tidak terjadi kata sepakat, maka dengan pengadaan alat pencegahnya, yaitu waring (jaring ikan) dan bronjong (anyaman bambu) dirasa juga dapat membantu mengatasi permasalahn ini.

Untuk mengatasi hama kambing ini, memang di tiap daerah di Indonesia memiliki teknik yang berbeda. Waring dan bronjong sendiri adalah yang umum ditemukan di Pantura Jawa, khususnya di pesisir Semarang dan Jepara.

Sayangnya, karena satu dan lain hal, seperti masalah pendanaan misalnya, maka pengadaan waring dan bronjong tak selamanya dapat dipenuhi.

Kami menemui KeSEMaT dan IKAMaT, dua instansi mangrove yang aktif melakukan upaya rehabilitasi mangrove di pesisir Pantura Jawa, untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap lagi mengenai kedua alat pencegah hama kambing ini.

1. Waring
Waring terbuat dari jaring ikan, biasanya berwarna hitam yang dapat dijadikan alat pencegah kambing memangsa bibit mangrove Anda.

 Waring diletakkan melintang sepanjang pematang tambak, mengikuti jalur penanaman mangrove. (Foto: KeSEMaT).
Waring diletakkan melintang sepanjang pematang tambak, mengikuti jalur penanaman mangrove.

“Cara pemakaiannya sederhana, jadi waring ini diletakkan melintang sedemikian rupa sehingga dapat menutupi semua garis tanam mangrove yang biasanya ditanam di sepanjang pematang tambak,” jelas Mahbub Murtiyoso, Presiden KeSEMaT.

Menurut Mahbub, dengan cara ini, maka kambing tidak akan memangsa bibit mangrove karena terhalang oleh waring.

“Kami bekerjasama dengan kelompok tani mangrove setempat dan warga di sini untuk menjaga agar kambing tak sampai memakan daun mangrove jenis Rhizophora yang baru ditanam. Ini sudah kami koordinasikan di awal, pada saat survei lokasi penanaman, sebelum kegiatan penanaman mangrove dimulai,” tambahnya.

2. Bronjong 
Berbincang dengan salah seorang Anggota IKAMaT, yaitu Wellan, dia menjelaskan bahwa di Jepara memiliki teknik pencegahan yang berbeda. Lokasi penanaman mangrovenya bukan di pematang tambak melainkan langsung di bibir pantai.

“Di Jepara ini, kami menanam jenis mangrove asosiasi, yaitu Cemara Laut dan Nyamplung dan lokasinya berbatasan langsung dengan pantainya. Hewan ternak yang banyak dijumpai di sini adalah ayam dan kambing. Untuk mencegah pemangsaan oleh kambing, maka kami memakai bronjong. Satu mangrove, satu bronjong.” jelasnya.

Satu mangrove, satu bronjong. (Foto: IKAMaT).
Satu mangrove, satu bronjong.

Wellan menambahkan bahwa pengadaan bronjong ini sudah disepakati di awal proyek rehabilitasi mangrove. Timnya juga sudah melakukan studi awal dan menemukan bahwa kambing banyak ditemukan di sekitar tapak, karena lokasi penanaman mangrovenya juga berdekatan dengan pemukiman warga.

“Dengan pemakaian bronjong ini, diharapkan akan meminimalisir pemangsaan kambing terhadap Cemara Laut dan Nyamplung. Kami juga terus melakukan monitoring secara rutin untuk memastikan tanaman ini bebas hama lain selain kambing, agar didapatkan kelulushidupan yang optimal,” pungkasnya.

Nah, sekarang Anda makin tahu, bagaimana teknik mengatasi pemangsaan bibit mangrove kita oleh kambing. Bagi Anda yang memiliki pengalaman lain, seputar permasalahan ini, Anda bisa share di kolom komentar.

(Sumber foto: 1, 2, 3).

Admin MANGROVEMAGZ | Majalah Mangrover Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *